Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2024
Hal yang paling menyebalkan adalah: Ketika tanpa sengaja menemukan namamu dalam buku yang aku baca, Aku beralih ke buku yang lain, Lebih mengejutkan kembali karena, Aku membaca kisahku tentangmu dalam buku yang aku baca ini.
Aku membeli seribu pohon untuk menggantikan kesedihanku, Aku tanam seribu pohon bersama kenangan itu, Biarkan kenagan tentangmu tertimbun bersama akar yang semakin subur. Namun ternyata aku hanya mampu membeli satu pena, Satu pena ini membuatku menulis seribu surat yang tak ingin ku sampaikan padamu. 
Tulisan ini untukmu, Dan suatu saat nanti kan ku tunjukkan seluruh sajakku untukmu, Akan ku tunjukkan playlist spotify favoritku, Akan ku pinjamkan seluruh buku yang aku miliki, Semoga aku masih hidup, Aku masih diperizinkan Tuhanku untuk mengabadikan dirimu, Dalam setiap goresan tanganku. Aku tetap masih menantikan saat itu tiba, Dengan rasa kesepian dan segala rasa yang ku tahan. Sebelum kau datang menemani hariku, Sebenarnya aku tidak terlalu sepi, Ada cowok fiksi, husbu dan aktor favoritku, Akan ku perkenalkan satu persatu dengan antusias, Saat itu tiba, aku harap kau tak bosan ya. Aku memiliki masa lalu, Dan akan ku pastikan kamu tidak cemburu akan hal itu. Hai… bahkan sebelum kamu datang, Sajakku sudah banyak tentangmu. Oh iya, semoga genre film kita sama ya, Biar ngga bingung mau nonton apa. Percayalah, saat tulisan ini tiba di kamu, Aku sudah menganggap tulisan ini begitu alai. 
Aku melihatnya bagai langit di kala senja, Aku melihatnya bagai bulan purnama di langit yang gelap. Bagiku ia bukan bintang, Satu dari sekian banyak. Dia bagai porselen antik yang ku simpan dalam etalase, Tak kan ku izinkan diriku untuk menyentuhnya, Apalagi orang lain. Hanya cukup mengagumi dari bumi, Hanya cukup menjaganya agar porselen antik itu tidak pecah. Namun, aku bukanlah seniman yang menciptakan porselen antik itu, Ketika pemilik porselen antik itu mengambil alih bahkan memegangnya, Aku tidak bisa melarang, Karena itu porselen itu miliknya. Aku tidak bisa melihat porselen antik itu lagi, Aku tidak bisa menatapnya lagi, Tapi aku senang porselen antik itu tidak pecah, Ketika pemilik porselen antik menitipkannya padaku. Ku harap, porselen antik tiba di museum yang tepat, Kalau tidak, Kembalikan saja padaku kalau begitu, Kan ku jaga bagai bayi beruang kutub.