Aku melihatnya bagai langit di kala senja,
Aku melihatnya bagai bulan purnama di langit yang gelap.
Bagiku ia bukan bintang,
Satu dari sekian banyak.
Dia bagai porselen antik yang ku simpan dalam etalase,
Tak kan ku izinkan diriku untuk menyentuhnya,
Apalagi orang lain.
Hanya cukup mengagumi dari bumi,
Hanya cukup menjaganya agar porselen antik itu tidak pecah.
Namun, aku bukanlah seniman yang menciptakan porselen antik itu,
Ketika pemilik porselen antik itu mengambil alih bahkan memegangnya,
Aku tidak bisa melarang,
Karena itu porselen itu miliknya.
Aku tidak bisa melihat porselen antik itu lagi,
Aku tidak bisa menatapnya lagi,
Tapi aku senang porselen antik itu tidak pecah,
Ketika pemilik porselen antik menitipkannya padaku.
Ku harap, porselen antik tiba di museum yang tepat,
Kalau tidak,
Kembalikan saja padaku kalau begitu,
Kan ku jaga bagai bayi beruang kutub.
Komentar
Posting Komentar