Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

Telah Sirna

         Pada malam, aku ingin bercerita... Dulu, aku pernah tersenyum karenanya, semua sajakku tentangnya, menatap langit malam setiap kali teringat tentang dirinya, dan, aku begitu mencintainya.                Aku menyukai apa yang dia suka,                Aku juga mempelajari keahlian dia,                dan kenyataannya,                Aku satu frekuensi dengan dirinya. Tiga tahun berlalu, rasaku masih sama, Setiap kali dia mendekat, setiap kali dia bercerita, dan setiap kali dia menjahiliku, hatiku berdebar tak henti-hentinya.                Kau tau? apa tragisnya?                Oh bukan, bukan cinta sepihak,                Tidak sama sekali. Ada ...
Kurasa, Kini aku harus mulai belajar, Untuk mengikhlaskanmu dengan orang lain, Dan memendam rasa ini dalam-dalam, Terkubur dalam sejuta angan, Melihatmu bahagia dengan orang yang kau sayang. Ku tak pernah menyesal karena (masih dan terus) mencintaimu, Itu pilihanku. Jika kau tanya “Hingga kapan? Apa kau tak bosan?” Jawabannya “Hingga aku lelah, hingga aku menyerah.” Meski aku sendiri tidak tahu seberapa batas lelahku mencintaimu (sendirian). Pati, 4 Maret 2016
Salahkah aku? Atas keputusanku saat itu, Yang menurutku terbaik untukmu. Saat aku benar-benar mengikhlaskanmu, Saat aku berjuang untuk melupakanmu, Saat-saat terberat berusaha untuk tidak memperhatikanmu lagi dan lagi. Salahkah aku? Yang saat itu mencintaimu, Mengharapkanmu, Mengharapkan kau memperhatikanku. Kini, Melihatmu bersamanya cukup bagiku, Cukup membuatku bahagia, Walau luka yang amat menyiksa, Walau sempat meneteskan air mata, Tak apa, sungguh disisi lain, aku bahagia. Pati, 16 Februari 2016/12.40 Saat pelajaran Hadist dan dia di kelas yang sama

Tak Lagi Sama

 Rasa ini telas sirna, Lama tiada, kan kulupa. Entah kemana? Salahkah aku? Bila semua itu, Aku lakukan demi kamu, Demi kebahagiaanmu/ Memang, Dulu rasa ini amat membara, Tak jumpa, rindu tiada tara. Bagiku, Dirimu bagai kesatria yang datang tiada duga. Tapi itu dulu, Sebelum, semua berganti luka, Sebelum, kau mengenal dirinya. Pati, 15 Februari 2016
"Ini bukan sekedar sebuah kata, ku tulis apa yang saat ini aku rasa."          Aku mengaguminya, entah apa yang ku kagumi.          Aku mencintainya, tanpa sebab.          Aku menantinya, berharap tak mengecewakan. Aku tak tahu sampai kapan, Yang ku lakukan saat ini hanyalah bertahan. Aku juga ingin menguji diriku sendiri, Sampai mana aku kuat bertahan, Agar aku tak lagi kehilangan kepercayaan.          Aku tak memaksanya untuk mencintaiku,          Karena cinta itu tentang keikhlasan.