Sungguh, kita se asing ini? Tanpa percakapan meski hanya berjarak dua langkah, Apakah sunggih kita se asing ini? Untuk memulai percakapan yang berakhir canggung. Ada apa denganmu? Ada apa denganku? Ada apa diantara kita? Eamang ada apa diantara kita hingga se asing ini? Sungguh, aku tak ingin mengganggu, aku hanya takut kamu pergi, hanya itu. Yang benar nyatanya kamu pergi.
Postingan
Menampilkan postingan dari September, 2024
Sajak Tak Terduga
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Sebelum mengenalnya, Sebelum mengetahui namanya, Ia begitu saja masuk dalam sajakku, Setiap kata tertulis begitu saja ketika melihatnya, Meski hanya bayangan dari pantulan kaca, Hanya dari cara ia menaikkan kaca mata, Hanya dari ketika ia terdiam mengerjakan kerjaannya, Dengan mudahnya aku menuliskan sajak tentangmu.
Hujan di Bulan September
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Sialnya, kamu datang ketika musim hujan, Aku yang sebelumnya membenci hujan ini, Kini menikmatinya dan bahkan menantinya, Saat turun hujan dalam satu ruang, Dan kita menatap jendela yang sama. Kita terjebak dalam rintik hujan, Kau menjelaskan secara sederhana, Tentang bangunan dan ruang, Aku menikmatinya, Menikmati setiap kata yang terucap, Menikmati ketika kau begitu antusias menjelaskan suatu hal, Menikmati ketika kau berusaha melucu, Namun aku yang lola ini harus mikir dulu, Maafkan aku, Tapi sungguh aku menghargai usahamu itu, Terima kasih telah menjadi hujanku, Dan untungnya itu kamu. Suatu sore satu ruang denganmu, di kursi favoritku.
Percakapan Antara Permen dan Stop Kontak
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pada akhirnya aku menyapanya, Terjadi begitu saja, Melalui stop kontak yang ia bawa, Aku membalasnya dengan permen dua warna. Kini aku maish menatapnya, Dia menggunakan kaca mata, Menandakan ia fokus dengan kerjaannya. Sungguh aku tidak ingin mengganggu, Hanya memberinya permen kopiko satu per satu, Sesekali aku menatap keduanya, Entah orangnya ataupun kerjaannya, Aku hanya ingin berkata, Bahwa kini aku bisa menulis di sampingnya. Ketika ia duduk di kursi favoritku, dan aku duduk di sampingnya.
Sudut Perpustakaan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kau tahu? Bagaimana rasanya membaca buku, namun yang aku baca bukanlah tulisan dalam buku itu, melaikan wajahmu, sosok dirimu dibelakang buku yang sedang aku baca, aku membaca ekspresimu, menerka apa yang sedang kamu kerjakan. Temapat dudukmu terpaut satu bangku dariku, namun aku tidak berani menyapa, hanya menatapmu dari belakang buku yang sedang aku bawa. Kau tau? Bagaimana rasanya tersenyum, namun bukan karena cerita dari buku yang aku baca, melainkan jarimu yang sedang menaikkan kaca mata. Kau tau? Aku sering menatap kaca, karena didalamnya ada bayanganmu, terpantul dirimu yang sedang mengerjakan sesuatu Kau tau? Kini sudah menjadi kebiasaanku, mencarimu disatu sudut kursi favoritmu.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
September, Aku menghentikan air yang mengalir, Aku tamping air itu, Dalam Waduk Gajah Mungkur. Bulan-bulan setelahnya, Hujan kian menghujam bagai bara, Awan abu memeluk baskara, Air waduk muntah ruah, Seolah menyusut bak bejana. Desember, Hujan terhenti, Akankah menjadi akhir? Atau kan menyapa banjir? Air kan terus menyusuri takdir, Kan menyapa di ujung hilir, Tertoreh dalam syair.