Wishlist Buku Favoritku
Aku, tentu memiliki wishlist buku yang ingin aku beli.
Tapi kali ini, wishlistnya bukan buku, tapi satu kata yang jadinya banyak kayak wishlist bukuku.
Satu kata, tapi jadi wishlist. Pakai "wishlist", daftar keinginan satu kata ini yang ingin aku sampaikan suatu saat nanti. Tentunya lewat tulisan, biar lebih detail dan banyak.
Wah.., aku bingung dari yang mana dulu.
1. Terima kasih. Terima kasih sudah memberikan ruang bagiku untuk berekspresi dalam tulisan. Terkadang, ada pemikiran yang belum tentu benar, ada suatu emosi yang bocor, ada pembahasan yang sampai kemana-mana, ada sebuah ide yang belum tentu sesuai jika diterapkan. Aku bisa menjelajah emosiku, apa yang terjadi. Seolah seperti benang kusut, udel-udelan dan ketika nulis, mulai lurus perlahan. Dari email itu sebagai wadah aku, pada akhirnya aku tahu: ketika ada masalah, ketika pikiranku kusut, aku hanya perlu menulisnya di tempat yang tepat (tentunya tidak ditempat umum). Kau tahu? aku punya buku diary, namanya Usagi (karena covernya gambar kelinci) dan aku punya buku coklat, tapi aku namain Toto (dari caramel machiatTO). Aku tetap masih berbagi dengan kamu melalui email, ijinkan Toto sama Usagi menamaniku untuk regulasi emosiku ini ya. Aku berterima kasih kepadamu, darimu, dari kamu mengijinkanku untuk menulis di email itu, aku jadi lebih memahami diriku. Aku menguraikan perasaanku dengan terstruktur. Aku sangat teramat terbantu, aku sangat teramat (apa ya kalimat yang lebih dari kata syukur?) beruntung mengenalmu. *kan, aku terharu lagi.
2. Terima kasih. Terima kasih telah menemukan tulisan-tulisanku yang sederhana ini, yang biasa ini. Medium. Kamu bilang, kamu baca tulisanku itu. Terima kasih sudah menjadi pembaca favoritku. Terima kasih sudah berkenan baca emaiku. Tidak terlupakan tentunya, sering kali tulisan panjang nyasar di whatsapp. Jujur saja, tidak masalah bagiku untuk kamu tidak baca semua tulisanku. Aku hanya menulis dan membagikan itu di kamu. Dibaca atau tidak, tentu saja itu hak kamu. Tidak semua tulisanku menarik. Sampai, aku berada dititik, cukup. Bukan cukup dalam artian udah nggak nulis lagi. Cukup di sini yang aku maksud adalah aku rasa, cukup kamu sebagai pembacaku, seolah itu sudah terbaca seluruh orang yang ada di dunia (alay juga sih). Cukup dalam artian, nggak tahu, hanya cukup jika itu disampaikan ke kamu. Kalau Usagi sama Toto, dia nggak bisa diajak diskusi, dia diem mulu, nggak ada sudut pandang yang berbeda, nggak ada pemikiran yang berbeda. Usagi dan Toto, nggak bisa ngomong. (eh, jangan, jangan sampai bisa ngomong. Serem amet.)
3. Terima kasih sudah menjadi pendengar yang baik. Bukan hanya baik, tapi juga apa ya? Aku yang takut mengungkapkan sesuatu, aku yang aslinya suka memendam ini, aku yang seringkali tidak mendengarkan perasaanku karena ketakutanku, aku yang tisak seberani itu mengungkapkan perasaan terberatku. Karena kamu, karena kamu mendengarkanku dengan tenang dan sabar. Aku bisa mengatasi semua itu. Aku perlahan mulai terbiasa membicarakan hal berat ke kamu. Dari bagaimana kamu ke aku, jadi "oh ternyata nggak papa ya, aku mengungkapkan apa yang aku rasakan. Termasuk ke orangtuaku." Jadi, aku sangat berterima kasih, dari awal bahkan, dari 14 Agustus 2024. Aku masih mengingat tanggal itu, aku masih mengingat bagaimana langit saat itu, aku masih mengingat tempat dimana aku ngobrol sama kamu, aku masih mengingat kamu yang saat itu sedang berbelanja, aku ingat suara mobil kamu hingga sampai rumah, kamu belum sholat. Aku mengingat dengan penuh penghormatan dan senang. Aku mengingat itu, karena untuk pertama kalinya aku berani mengungkapkan hal berat. Dan kamu tahu sendiri, saat itu bagaimana susahnya aku untuk bilang. Ini nggak cuma sekali dua kali. Berkali-kali. Rasanya, ingin aku abadikan semua. Tapi, akan panjang. Sampai aku terbiasa untuk membicarakan hal berat serupa ke kamu, itu berdampak ke aku dengan santai mengungkapkan kebutuhanku. Semoga, kamu tidak menganggap itu sebuah tuntutan, aku hanya mengungkapkan. Kamu nggak bisa baca pikiranku dan aku nggak mau kamu khawatir: jika aku ternyata merasa berat atau sedih atau kesal tapi aku pendam.
4. Terima kasih, karena "oh... ternyata cowok fiksi itu beneran ada ya di dunia nyata". Aku kira itu cuma tokoh yang ada di novel-novel yang dibuat penulis, aku baru sadar ternyata Allah menciptkakan tokoh yang indah ini melebihi tokoh-tokoh yang ada di novel (tentu saja, karena Allah yang menciptakan dia). Maksudku, beneran ada... kok ternyata ada ya. Aku kira, aku nggak menemukan tokoh seperti ini, aku kira itu cuma ada di novel-novel yang aku baca, aku kira itu cuma cerita fiksi. Tapi ternyata Allah mengijinkanku untuk mengenalnya. Alur cerita dari Mu sungguh luar biasa. Awalnya aku kira, 14 Agustus ending dari cerita ini, tapi kebetulan aku menemukan namamu (dari banyaknya buku yang ada di dunia, tanpa sengaja aku menemukan namamu, setelah kejadian itu), ganti buku pun bab pertama menceritakan pov aku ke kamu, ganti buku lagi yang ada membuat aku meruntuhkan tembok itu, buku-buku selanjutnya seolah menuntunku untuk menulis dan mengirim email itu. Aku kira itu akhir. Aku tidak meragukan alur cerita dari-Nya, apapun dan bagaimanapun cerita selanjutnya aku percaya pada-Nya.
5. Terima kasih karena sudah mendukungu. Aku tidak pernah menduga, ternyata ada ya seseorang yang menanyakan padaku buku yang sedang aku baca, ternyata ada juga seseorang yang mendengarkan aku ketika aku bahas buku, ternyata ada juga seseorang yang mendukungku untuk hal yang sangat aku suka ini, buku. Aku rasanya mau terbang🐝 guling-gulingnya udah nggak mempan lagi 😭 aku khawatir ternyata bertemu dengan seseorang yang menganggap beli buku adalah buang-buang uang, karena dijaman sekarang ya begitulah, buku hal yang membosankan dan nggak guna, ternyata ada ya yang menganggap buku adalah investasi (tidak buang-buang uang). Aku khawatir, bertemu dengan seseorang yang merasa tersaingi atau tersinggung ketika aku belajar (baca buku) atau ketika aku berpendapat atau ketika aku membicarakan isi di buku, tapi ternyata ada ya yang menjadikan buku dan belajar adalah ruang untuk tumbuh, justru dijadikan ruang diskusi bukan adu argumen/debat tidak sehat. Banyak hal yang tidak aku ketahui, tapi kamu tahu itu dan beberapa sudut pandang dariku melengkapi sudut pandang dirimu. Aku belajar bukan berarti aku tahu banyak hal. Aku nggak bisa baca kitab (bisa sih, cuma cari yang cepet dibaca aja), aku jarang baca kitab-kitab terjemahan juga. Di dunia yang luas ini, banyak yang belum aku ketahui, jadi aku belajar bukan bermaksud menjaikan tameng ketika ngobrol, atau bukan aku jadikan untuk berdebat menjatuhkan lawan bicara, justru agar aku memperbaiki hidupku, sesuatu yang ada pada diriku sendiri. Aku sangat, sangat, pol buanget bersyukur dalam 3 hal yang menjadi napas hidupku, yaitu belajar, buku dan nulis. Kenapa aku ibaratkan napas? karena 3 hal hobi itu hingga akhir hayat. Rasanya, aku ingin berterima kasih 1001 kali untuk yang satu ini, karena langka. Senang rasanya bekerja sama denganmu.
6. Terima kasih, karena sudah menemukan aku. Aku yang mahasiswa kupu-kupu ini, nggak suka ikut organisasi atau UKM. Aku yang chat cuma ada butuhnya. Aku yang di PPNH, juga kenal santri putra cuma Bagus, itu pun gara-gara satu kelas (pada akhirnya kenal beberapa, itupun gara-gara pacarnya temenku, eh udah suami deh). Aku yang suka di rumah. Lalu, kamu menemukan tulisanku, menemukan pemikiranku, menemukan aku. Menemukan di sini juga aku artikan menemukan diriku. Maksudnya, apa yang ada pada diriku, semua. Bahkan sisi aku yang mungkin aku nggak tahu tapi kamu tahu, entah itu kekurangan atau kelebihan, entah itu keburukan atau kebaikan, entah itu trauma atau bagian yang sudah sembuh. Kamu memberikan aku waktu dan ruang bagiku untuk belajar dan memperbaiki. Ada kata maaf dan memaafkan. Aku tahu, bisa jadi kamu tidak lupa, hanya saja kamu berkata gitu untuk aku. Terima kasih telah memberikan ruang untuk tumbuh dan telah kamu beri pupuk dan air berupa semua yang sudah kamu lakukan ke aku (terima kasih 1 sampai 5 diatas, ditambah ceritamu dan kisahmu).
7. Terima kasih, aku sudah diperkenankan untuk mengakses buku kehidupanmu, kisahmu, hari-harimu, ikanmu, mobilmu, buku-bukumu yang ada di rak itu (aku suka), tulisanmu, masa lalumu, kekhawatiranmu, overthinkingmu, rencana-rencanamu, harapanmu, keinginanmu, wishlistmu. Aku tahu kamu lupa "wishlist yang mana?", aku ingatkan suatu saat nanti. Aku pernah bilang, setidaknya ada satu orang yang mengingat kisahmu yang hebat ini, perjalanan hidupmu, perjalanan kamu kecil hingga kamu yang saat ini (Rasanya, ingin napak tilas, dari kamu lahir, TK, SD, SMP hingga kuliah.) Sebuah kehormatan bagiku untuk mendapatkan semua itu. Terima kasih karena aku sudah dipercaya untuk mendapatkan ceritamu. Kamu tahu? kisah yang indah, cerita hebat, novel bestseller, petualangan yang hebat, terjadi bukan karena tokoh utamanya memiliki hidup yang sempurna, bukan karena tokoh utama tidak pernah melakukan kesalahan atau kegagalan. Justru sebaliknya. Itulah kamu... Itulah mengapa kamu Caramel Machiatto, itulah kenapa kamu cuma satu. Aku suka Caramel Machiatto, bukan karena namanya yang menarik, bukan karena perannya yang hebat, bukan karena kamu sebagai ini dan itu, bukan karena kamu dengan semua hal eksternal. Tapi karena, itu kamu. Semua hal yang ada pada dirimu, yang tidak bisa digantikan itu, bahkan dengan kloning sekalipun. Jika suatu saat nanti, kamu meragukan dirimu, kamu meragukan kemampuanmu, kamu tidak percaya sama dirimu sendiri, ingat satu kalimat dariku "bahwa aku percaya. Aku percaya sama kamu. Kamu sudah melalui banyak hal, itu cukup membuatku tidak meragukanmu." Kamu masih ingat? bagaiamana tekad kuatmu untuk bertahan hidup? kamu berenang ke tepi pantai, yang rasanya tidak bergerak maju sedikitpun, tetapi kamu terus berenang. Takut, cemas, sakit, lelah, meski begitu kamu masih tetap berenang (iya, ini ada kuasa dari Allah, atas ijin dan bantuan dari-Nya. Tapi disini, aku ingin mengaitkan kejadian itu dengan ini). Kamu berusaha memberikan yang terbaik, kamu sudah berusaha semaksimal mungkin, kamu sudah berkali-kali cek nggak ada yang terlewat, kamu sudah berenang sekuat yang kamu bisa. Bagaimanapun hasilnya, setidaknya kamu sudah berusaha, seperti kamu berenang ke tepi pantai itu. Kuasa Allah, yang membantumu hingga ke tepi pantai dan usahamu, tekadmu yang tidak pernah padam.
Itu ibarat, kamu berusaha nggak pakai instagram lagi, salah satu bentuk usahamu adalah mencoba uninstal atau memebatasi waktu, uninstal-instal bolak-balik lagi itu bentuk usaha. Usaha kecil itu, suatu saat nanti akan berhasil. Seperti kamu berhasil nggak pakai Tiktok.
Itu ibarat, kamu berusaha nggak pakai instagram lagi, salah satu bentuk usahamu adalah mencoba uninstal atau memebatasi waktu, uninstal-instal bolak-balik lagi itu bentuk usaha. Usaha kecil itu, suatu saat nanti akan berhasil. Seperti kamu berhasil nggak pakai Tiktok.
8. Terima kasih, karena kamu ada di dunia ini. Terima kasih Ya Allah, telah Engkau ciptakan salah satu hamba-Mu yang saat ini menjadi tokoh utama dalam tulisanku ini. Terima kasih, sudah hidup. Terima kasih sudah berjuang, dari hal yang sudah aku ketahui melalui ceritamu dan hal yang belum aku ketahui. Aku ingin memeluk kamu kecil, tapi nggak bisa ya. Aku ingin mepuk-puk kamu besar, tapi belum boleh. Karena, nggak ada kalimat yang tepat. Ini, kalimatnya paling sedikit diantara terima kasih yang lain, ya karena cukup puk-puk sama peluk si kecil. Terima kasih sudah hadir di dunia. Jaga kesehatan ya, aku hanya ingin kamu hidup sedikit jauh lebih lama dari umumnya.
9. Terima kasih, karena telah memilihku menjadi teman ngobrolmu, memilihku untuk menemani kamu diperjalanan, memilihku masuk dalam ruang diskusi, memilihku merekomendasikan buku, memilih si ikan diantara hewan yang lain. Terima kasih, sudah berkenan hadir dalam hidupku yang sederhana ini, aku yang apa adanya ini, biasa-biasa saja. Jika kamu menanyakan hal yang serupa berulang kali, aku jawab bahwa aku memilihmu berkali-kali. Kamu tahu sesuka apa aku sama buku? ya, bahkan ketika diminta milih kamu atau buku, tentunya aku milih kamu, karena kamu adalah buku itu sendiri. Kamu adalah buku fiksi sekaligus non fiksi itu sendiri. Non fiksi adalah ketika kita diskusi dan kejadian atau masalah yang datang. Fiksinya adalah bisa kita ngobrol ngalor-ngidul berimajinasi kalau bumi itu kopong, datar atau bulat, naga apakah satu angkatan dengan dinasaurus dan masih banyak lagi. Begitulah kamu dalam hidupku dan poin 1 sampai 9. Arti kamu dalam hidupku, tidak bisa dijelaskan hanya satu paragraf. Aku tidak sedang memujimu kosong dan ini aku nggak lagi memuji, aku hanya mengungkapkan terima kasih. Aku juga tidak berekspektasi, karena itu aku tulis atas hal yang sudah terjadi.
10. Terima kasih. Terima kasih sudah mendukung impianku untuk menulis buku. Meskipun, aku meragukan diriku dan merasa tulisanku masih buruk. Tapi, akan aku coba. Aku usahakan. Akan aku coba berkali-kali hingga aku menemukan gaya bahasa yang lebih baik. Terlebih lagi, terima kasih sudah mengijinkanku untuk menggunakan Hidden Home. Aku bingung epilognya seperti apa, akhir ceritanya seperti apa? apakah aku buat gantung ceritanya? tapi nanggung bukan? Jadi, aku memeperbaiki yang sudah ada.
11.
12.
dst...
Tentu saja masih berlanjut. Aku kumpulkan di sini. Kalimat itu, kalau nggak aku tuangkan, akan terus berputar di otak. Aku kosongkan di sini, agar aku bisa menambah lagi, agar aku bisa mengisi Terima Kasih berikutnya. Jujur, aku suka nulis ngetik,di Usagi dan Toto tanganku nggak kuat sebanyak ini (masih trauma laprak), tapi aku ingin setidaknya nulis tangan juga.
Mungkin, ini ada yang terlewat, belum aku tulis. Tapi lanjut kapan-kapan. Aku kumpulkan bagai kepingan puzzle. Bagaimana bersyukurnya aku mengenalnya.
Komentar
Posting Komentar