Resep Segelas Caramel Macchiato
Hai...
Ada suatu yang ingin aku katakan, tapi untuk kondisi saat ini, belum bisa aku katakan. Karena, aku akan malu. Juga, belum saatnya. Suatu saat nanti, jika Tuhan mengijinkan tulisan ini sampai padamu.
*belum aja ditulis, air mataku nggak tahan untuk ikutan nulis ini.
*aku nulis di sini, orang nggak bakal tahu kan ya, kalau nggak aku kasih linknya. Aku malah khawatir jika di wadah tulisan sebelah (Medium, si tokoh tau). Juga, aku ngga tahu tulisanku, akan seterbuka apa. Aku hanya ingin mengungkapkan semuanya. Mengungkapkan yang belum bisa aku ungkapkan. Aku ingin meninggalkan jejak untuk diriku 5 tahun yang akan datang.
Penulis, inilah kisah indah yang ingin penulis abadikan, kisah sederhana dengan seorang yang paling berpengaruh dalam hidup penulis. Menulis itu, bebas, menjadi diri sendiri, merdeka, jujur dan apa adanya, Penulis merasakan hal yang sama ketika dengannya. Justru, dari dia, penulis mengenal kosa kata baru dan makna frasa yang dulunya tidak penulis mengerti. Sajak yang dulunya tak bernyawa, kini setiap kalimat memiliki napasnya sendiri. Karena, kehadiran dia memberikan nyawa pada tiap tulisan yang sederhana ini. Terima kasih untuk kamu... Terima kasih sudah memberikan nyawa dalam tulisanku. Terima kasih, sajakku memiliki nama. Aku ingin, dikehidupan yang sekali ini, setidaknya ada satu orang yang menuliskan tentangmu. Setidaknya satu orang itu adalah aku.
Suatu saat nanti, jika Tuhan berkehendak. Tulisan ini, aku pastikan sampai di kamu. Untuk saat ini, biarlah di sini. Tidak aku kirim ke kamu. Rasa yang indah, aku simpan rapi dalam sajakku. Jika di umbar, atau berkali-kali tersampaiakan akan kehilangan maknanya. Suatu saat nanti, akan ada waktunya.
Hai... Kamu. Iya, tulisan ini untuk kamu.
Siapa lagi kalau bukan kamu,
(hanya) Satu orang, yang pertama kali ingin aku tunjukin setiap baca buku bagus,
Orang pertama, yang ingin aku tunjukin tulisanku. Ya, aku menyebutnya, pembaca favoritku. Rasanya, kalau seluruh dunia nggak baca tulisanku, aku tidak keberatan. Satu pembaca favoritku itu, sudah cukup bagiku.
Setiap kali, aku menulis tentangmu. Aku menangis, nggak tau kenapa aku nangis. Aku tau, aku terharu. Tapi nggak tau juga. Tiba-tiba saja. (paling malu kalau di tempat umum. Aku khawatir dikira punya masalah besar, padahal terharu. Aku malu, ingusku keluar lebih banyak daripada air mataku.)
Lanjut...
Aku pernah bilang ditulisanku dulu.
Aku takut kata "pergi",
Aku takut merasakan hal yang sama lagi,
Aku takut mengulangi fase move on yang menyebalkan itu. Udah lama, ilangnya juga lama pula.
Tapi, sejak Hidden Home itu. Rasa sukaku jauh lebih besar daripada ketakutanku.
Tambahannya, gunung itu menjadi tempat jika itu terjadi lagi.
Aku bisa melindungi diriku. Aku bisa melindungi perasaanku.
Bukan karena kamu melukaiku.
Bukan karena aku terluka atas pilihanmu.
Hanya saja, aku tahu bagaimana diriku dan segala emosi yang aku nikmati.
Kamu berhak untuk tetap tinggal ataupun pergi,
Sungguh, jika itu terjadi (pergi), aku hanya ingin kamu tidak merasa bersalah pada dirimu sendiri.
Aku juga ingin, kamu tidak perlu merasa kamulah yang membuat aku pergi ke gunung itu.
Tenang saja. Ini aku, bukan perempuan lain.
Ini aku, penjelajah emosi dari novel satu ke novel yang lain.
Ini aku, yang tanpa sengaja bertemu buku, seolah buku tahu apa yang terjadi padaku.
Jadi, kamu boleh egois padaku.
Aku juga menginginkan, untuk kali ini saja, kamu boleh egois.
Kamu, mengutamakan keperluan orang lain, memikirkan perasaan orang lain, mendahulukan kepentingan bersama. Untuk kali ini saja, di aku, kamu boleh memikirkan dirimu. Kamu boleh egois. Tanpa banyak penjelasan, aku mengerti.
Banyak hal yang kamu ungkapkan; kamu ingin aku merasa aman, kamu ingin aku tidak merasa terbebani, kamu ingin agar aku tidak terluka, kamu ingin agar aku tidak merasa terabaikan. Aku tahu itu. Aku yang sok tahu, tapi itu yang aku rasakan. Nggak tahu, yang tahu cuma kamu, tapi aku merasakan itu. Nggak tahu kenapa, beberapa tindakanmu atau ucapanmu. Aku membaca dari sudut pandang yang berbeda, ya itu tadi dari apa yang aku rasakan.
Kalau boleh... Kalau boleh lo ya...
Aku tidak memaksa, hanya request.
Daripada 2 americano, aku ingin 1 Caramel Macchiato. Iya cuma satu, cukup satu. Aku suka Caramel Macchiato daripada americano. Karena, diantara banyaknya kopi, aku suka Caramel Macchiato. Aku sadar, Caramel Macchiato cuma satu, resepnya beda dengan yang lain, makanya aku suka Caramel Macchiato. Bukan karena namanya yang keren "Macchiato" gitu, bukan. Tapi karena rasanya, juga setiap kali minum aku nikmati perlahan. Diantara banyaknya menu kopi, Caramel Macchiato selalu aku pilih, berulang kali aku memilih itu. Ditanya lagi untuk memastikan, aku tetap menjawab hal yang sama. Karena aku sudah memilih Caramel Macchiato diantara banyaknya menu kopi di dunia ini.
Kalau ditanya, "Apakah aku pernah bosan?"
Jawabannya "Tidak". Aku tidak bosan. Dengan rasa yang sama-Caramel Macchiato-aku bisa minum sambil nangis, kadang juga sambil glibuk-glibuk-guling-guling, kadang sambil senyum-senyum, kadang juga sambil masak atau berberes rumah, kadang juga sebelum tidur padahal sudah gosok gigi, kadang juga di jalan lagi tegang-tegangnya, dan banyak lagi. Satu Caramel Macchiato, aku nikmati dengan berbagai versi diriku.
Kalau ditanya "Apakah aku ada keinginan mencoba beralih suka menu kopi lain?"
Jawabannya "Aku penah mencoba palm sugar latte, tapi terlalu manis, yang akhirnya aku tambah es batu lagi. Espresso terlalu pahit. Setelah minum Caramel Macchiato, rasa yang pas dan sesuai di lidahku cuma ini. Udah. Pada akhirnya, aku selalu memilih menu yang sama."
Itu kopi favoritku...
Aku pernah baca novel judulnya "Hello Cello", ada tokoh namanya Marcello Este.
Namanya juga fiksi, ya kan... Tapi, suatu ketika... Aku merasakan Laut Bercerita halaman 1** dalam hidupku "oh ternyata ada ya Marcello Este bukan versinya Helga, tapi Marcello Este versi Fina." Aku merasakan bagaimana Cello memperlakukan Helga, sama persis Laut Bercerita halaman 1**.
Rasanya, aku ingin buat novel sendiri (cuma bayangin sih). Kayak "ada loh... ada loh... ini... bukan cowok fiksi. Laut Bercerita halaman 1** nggak baca AU atau membuat dirinya kayak di novel, tapi memang dirinya seperti itu. Kayak, ada loh... nyata, bisa ngomong, bisa ngobrol, bisa makan, napas coy, napas, ada denyut nadinya, ada detak jantungnya. Kok bisa ya Cello ada? Kok bisa ya napas?"
Kok bisa, ada orang yang bisa matiin mode dnd ku?
Aku yang membenci suara notifikasi ini, aku yang nggak suka suara dering telfon atau notifikasi chat masuk, kok bisa ya jadi off dnd.
Kok ada orang yang paham jalan pikiranku yang ribet ini? banyak nanya pula.
Kok ada orang yang baca tulisanku yang random dan biasa ini?
Kok bisa tulisanku bernyawa lagi? maksudnya, aku nggak bisa memaksa dalam hal tulisan.
Kok bisa ada Marcello Este?
Itulah novel Hello Cello. Aku ingin reread.
Jika kamu merasa; aku sedih selama denganmu, aku merasa terbebani, aku merasa stres, aku merasa berat, aku nangis seolah tersakiti gitu, atau perasaan negatif lainnya.
Aku ingin kamu tahu, aku tidak merasakan itu.
Aku tumbuh dua kali lebih cepat daripada sebelumnya.
Problem solvingku, bagaimana aku jujur dengan emosiku, aku belajar dan menerapkannya, bagamana aku mengungkapkan emosiku dengan baik, bagaimana aku menguraikan secara verbal apa yang aku butuhkan dan rasakan.
Awalnya aku kira, aku mengenal diriku. Setelah denganmu, aku sadar, ternyata aku hanya mengenal bagian terkecil dari diriku. Ada diriku tersembunyi yang kamu temukan. Ada luka masa lalu yang terungkap, untuk aku pelajari. Denganmu, aku semakin menghargai diriku yang sebelumnya merasa kecil dan biasa ini.
Aku tahu, masih banyak kekuranganku. Kekurangan yang aku miliki, kekurangan yang tanpa aku sadari. Ijinkan aku untuk belajar dari kesalahanku, menemukan buku yang sesuai dengan yang aku alami dan memperbaikinya. Kalimat bijak akan terlintas di otak, tapi tidak dengan pengalaman, ia akan melekat menjadi sebuah cerita, perjalanan, penuh emosi dan rasa, tangis lalu pelukan maaf. Terima kasih, telah memberikan ruang untukku belajar. Terima kasih, telah menjadi tempat tumbuhku.
Bingung. Takut. Bahagia. Butterfly era. Khawatir. Marah. Malu. Percaya. Kembali lagi dan lagi. Aman. Tenang. Kangen. Percaya berulang kali.
Aku tahu bagaimana kamu. Aku tahu nilai kehidupan yang kamu pegang. Aku tahu integritasmu. Aku tahu sebagian kecil kisah hidupmu. Tanpa kamu jelaskan panjang lebar, aku mengerti. Aku percaya kamu, itu pilihanku. Dan seperti pilihan hidupku sebelumnya, aku percaya dengan pilhanku. Ketika diulang lagi, aku memilih pilihan yang sama. Aku memilih jawaban yang sama. Bukan karena kamu atau untuk kamu, tapi karena aku tahu bagaimana diriku.
*ini masih sebagian kecil. Jika aku tulis semua secara detail, ntar jadi novel. eh autobiografi deh.
Jika, suatu saat nanti kamu baca ini.
Aku nggak bisa nulis kalimat puitis.
Rasanya, aku nggak bisa nulis puisi atau kalimat ambigu, nggak bisa mewakili perasaanku. Nggak bisa terungkapkan sebagaimana mestinya. Rasanya, nggak ada yang pas di aku. Jadi, inilah tulisan sederhanaku.
Aku nggak sedang memuji kamu ini. Aku juga nggak melebih-lebihkan. Aku hanya menulis apa yang terjadi dan aku rasakan.
Aku tulis di sini, barangkali fileku ke hapus semua. Barangkali, aku lupa ingatan. Barangkali, kalau ditulis tangan, aku lupa bukunya ku taruh mana.
Aku kasih tulisan-tulisanku ini (termasuk Hidden Home 2), kalau nggak pas di gunung itu, ya pas minum segelas Caramel Macchiato.
Kalau boleh, ijinkan diriku untuk menulis tentangmu ya, untuk diriku di masa mendatang. Jikalau kamu berkenan... Ijinkan aku, bahwa Marcello Este beneran ada. Ijinkan aku, untuk meuliskan rasa syukur memiliki kisah ini.
Karena, aku yang sekarang, ngga bisa nulis Hidden Home pertama lagi. Itu perasaan hidupku saat itu. Seperti halnya kamera yang mengabadikan tiap momen untuk dinikmati diri sendiri. Tulisanku, adalah caraku untuk mengabadikan emosi, suasana dan momen itu. Ketika membaca kembali 10 tahun yang akan datang "ah.... ternyata ini yang dulu aku rasakan... oh ternyata aku pernah merasakan ini... kok aku bisa nulis gini ya?"
Aku menulis, untuk diriku di masa mendatang.
Apakah kamu berkenan? boleh?
*pertanyaan tanpa jawaban, karena nggak bisa nanya. Kalau di sini boleh ya? nggak aku bagikan linknya, bahkan ke kamu (dulu kayaknya aku pernah bagiin ke kamu, tapi udah lama kan, dah lupa kan ya). Bismillah aja dulu...
Komentar
Posting Komentar