Kau tahu? Bagaimana rasanya membaca buku, namun yang aku baca bukanlah tulisan dalam buku itu, melaikan wajahmu, sosok dirimu dibelakang buku yang sedang aku baca, aku membaca ekspresimu, menerka apa yang sedang kamu kerjakan. Temapat dudukmu terpaut satu bangku dariku, namun aku tidak berani menyapa, hanya menatapmu dari belakang buku yang sedang aku bawa. Kau tau? Bagaimana rasanya tersenyum, namun bukan karena cerita dari buku yang aku baca, melainkan jarimu yang sedang menaikkan kaca mata. Kau tau? Aku sering menatap kaca, karena didalamnya ada bayanganmu, terpantul dirimu yang sedang mengerjakan sesuatu Kau tau? Kini sudah menjadi kebiasaanku, mencarimu disatu sudut kursi favoritmu.
Aku, tentu memiliki wishlist buku yang ingin aku beli. Tapi kali ini, wishlistnya bukan buku, tapi satu kata yang jadinya banyak kayak wishlist bukuku. Satu kata, tapi jadi wishlist. Pakai "wishlist", daftar keinginan satu kata ini yang ingin aku sampaikan suatu saat nanti. Tentunya lewat tulisan, biar lebih detail dan banyak. Wah.., aku bingung dari yang mana dulu. 1. Terima kasih. Terima kasih sudah memberikan ruang bagiku untuk berekspresi dalam tulisan. Terkadang, ada pemikiran yang belum tentu benar, ada suatu emosi yang bocor, ada pembahasan yang sampai kemana-mana, ada sebuah ide yang belum tentu sesuai jika diterapkan. Aku bisa menjelajah emosiku, apa yang terjadi. Seolah seperti benang kusut, udel-udelan dan ketika nulis, mulai lurus perlahan. Dari email itu sebagai wadah aku, pada akhirnya aku tahu: ketika ada masalah, ketika pikiranku kusut, aku hanya perlu menulisnya di tempat yang tepat (tentunya tidak ditempat umum). Kau tahu? aku punya buku diary, namanya Usagi...
Hai... Ada suatu yang ingin aku katakan, tapi untuk kondisi saat ini, belum bisa aku katakan. Karena, aku akan malu. Juga, belum saatnya. Suatu saat nanti, jika Tuhan mengijinkan tulisan ini sampai padamu. *belum aja ditulis, air mataku nggak tahan untuk ikutan nulis ini. *aku nulis di sini, orang nggak bakal tahu kan ya, kalau nggak aku kasih linknya. Aku malah khawatir jika di wadah tulisan sebelah (Medium, si tokoh tau). Juga, aku ngga tahu tulisanku, akan seterbuka apa. Aku hanya ingin mengungkapkan semuanya. Mengungkapkan yang belum bisa aku ungkapkan. Aku ingin meninggalkan jejak untuk diriku 5 tahun yang akan datang. Penulis, inilah kisah indah yang ingin penulis abadikan, kisah sederhana dengan seorang yang paling berpengaruh dalam hidup penulis. Menulis itu, bebas, menjadi diri sendiri, merdeka, jujur dan apa adanya, Penulis merasakan hal yang sama ketika dengannya. Justru, dari dia, penulis mengenal kosa kata baru dan makna frasa yang dulunya tidak penulis mengerti. Saja...
Komentar
Posting Komentar