Seni Rasa Percaya dan Rasa Sakit

Setahun yang lalu(kurang 2 bulan), meme pernah bertanya padaku.

"Pin, kamu nggak khawatir dia deket cewek d sana? Bisa jadi di sana dia deket cewek juga."

Aku diam sejenak. Mengatur posisi. Lalu...

"Perasaanku mengatakan, dia tidak seperti itu. Bagaimana dia di sana adalah tanggung jawab dia, bukan aku. Kalau pun iya, aku yakin Allah akan menunjukkan itu padaku, karena aku pernah mengalaminya. Aku percaya."


Ketika melihat lagi ke belakang,
Aku belajar dari kamu.

Bahwa, rasa percaya itu tidak serta merta datang begitu saja. Tidak bisa dipaksakan. Awalnya, aku memberikan kepercayaan itu, aku mencoba percaya, karena bagaimana kamu ke aku; cara kamu menjaga kepercayaanku, cara kamu memupuk rasa percaya itu, cara kamu memperlakukanku, cara kamu selalu memberikan ruang aman bagiku. Rasa percaya itu semakin besar. Tanpa paksaan. Tanpa tuntutan. Tanpa aku memaksa diriku untuk percaya. Seiring berjalannya waktu, semakin aku mengenalmu, bagaimana kamu yang jujur ke aku, rasa percaya itu semakin kokoh.

Entah di sana ada orang yang menyukaimu, atau mungkin bisa jadi masa lalu yang ingin kembali, atau ada keperluan keluar dengan perempuan lain.

Saat itu, aku juga sempat heran. Jujur saja, aku pun heran sama diriku.

Kenapa aku nggak tantrum?
Kenapa aku nggak curiga?
Aku pikir, aku akan seperti itu. Tapi kenapa nggak?
Selain karena bagaimana kamu memperlakukanku. Mungkin, ada sesuatu yang diluar kuasaku, diluar prediksiku.
Allah yang memeberikan perasaan itu ke aku?
Allah kah yang menanamkan rasa percaya itu ke aku?
Sungguh... perasaan aneh yang lain.


Satu hal lagi....

Bahkan dari kisahku sebelumnya sampai sekarang. Aku akan tetap sama. Aku nggak ingin menjadi pihak yang menyakiti, mengecewakan atau meninggalkan.

Kalaupun ada akhir dari sebuah kisah, aku hanya ingin menjadi pihak yang disakiti, dikecewakan dan ditinggalkan.

Bukan karena aku tidak mencintai diriku. Bukan juga agar terlihat menjadi korban, dan orang lain pelaku.

Hanya saja, tidak semua orang mampu merasakan bagaimana perasaan-perasaan itu dan mengatasinya. Terkadang ada yang menekan perasaan itu, karena tidak ingin merasakan rasa sakitnya yang terlalu sakit. Terkadang ada yang tidak bisa tidur, menangis sejadi-jadinya, menyalahkan diri sendiri.

Biarkan itu aku, biarkan aku yang merasakan itu. Karena ketika itu terjadi, aku bisa merasakannya, aku bisa berkarya, aku bisa tumbuh dan aku jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Dan tentunya, aku tetap sama seperti diriku dengan dunia yang aku miliki.

Apa mungkin aku sudah terlatih? Bisa jadi.

Justru, karena kisah lalu yang terasa "yah begitulah", aku jadi pihak yang diuntungkan.

Kok bisa malah untung?
Tentu, karena dari pengulangan itu, aku semakin tahu pola perasaanku, aku semakin tahu cara mengatasinya.

Itulah, sebuah keajaiban dari rasa sakit.


Tidak mudah memang. Jujur tidak mudah. Ketika mengingatpun, rasa sakitnya masih sama.

Hanya saja, ketika aku berhasil mengatasi perasaan lalu, ketika aku memahami makana dari kisah itu, ketika aku sudah bisa bersyukur keluar dari kisah itu. Rasanya, ada rasa bangga kepada diri sendiri. Ada rasa terima kasih kepada diri sendiri di masa lalu, karena mampu melewati semua itu serta gejolak perasaannya.

Itulah seni dari sebuah rasa sakit.


Aku akan ditempa berkali-kali.
Seperti pembuatan pedang (tapi aku tidak pedang. Aku tidak ingin menyakiti atau melawan).
Aku ditempa, hatiku ditempa. Tubuh dan perasaanku terasa lemah.
Aku akan menangis, aku akan pusing, hatiku panas, bingung, takut.
Aku meminta agar Allah mengasihiku.
Aku nggak bisa berpikir jernih.

Lalu...

Dari situlah... dari perasaan kacau itulah, kita belajar seni dari sebuah rasa sakit.

Aku bernapas, merasakan semua itu, mencari cara untuk menenangkan perasaanku terlebih dulu.
Perasaan reda, lalu refleksi.
Aku mengungkapkan: apa yang aku rasakan, apa yang terjadi, apa yang aku harapkan, bagaimana kenyataannya, asumsi, overthinking, pov orang lain, kemungkinan. Keluarkan semuanya dengan jujur tanpa tersisa.
Perasaan pertama yang muncul adalah lega. Perasaan kacau itu, jadi kosong.
Aku baca lagi tulisan: apa yang aku ungkapkan tadi...
Aku baca lagi dikemudian hari...
Dari situ, bisa memfilter mana fakta, mana opini, mana sekedar ketakutan di kepala. Muncul empati dan kasih.

Cara-cara itu bisa muncul, bukan muncul begitu saja dari satu kejadian.

Bisa menemukan cara itu dari beberapa kejadian, tempaan berkali-kali.
Tentu, setiap orang memiliki cara yang berbeda.


Terakhir,

Bisa menyadari cara itu, bisa menemukan pola-polanya. Dari kamu. Bukan karena kamu memberikan rasa sakit atau tempaan itu, justru sebaliknya.
Iya, kamu. Ketika kamu memberikan ruang bagiku untuk mengungkapkan tanpa banyak kekhawatiran. Ketika kamu mendengarkanku dengan sabar. Ketika respon kamu atas apa yang aku ungkapkan, tidak membuatku takut untuk mengungkapkan lagi. Email-email itu. Semua itu, membuat aku semakin mengenal diriku, emosiku, perasaanku. Kamu bisa membuat aku, semakin lebih lagi mengenal diriku.

Itu salah satu dari sekian banyak rasa syukurku, rasa terima kasihku, rasa beruntungnya aku mengenalmu. Beruntungnya aku bekerja sama denganmu.

Makanya, aku bilang, kalau disebutkan satu per satu, maka akan jadi autobiografi.

Autobiografi Muhamad Firhan Al Ghozali.

Apa aku akan membuat skripsi berikutnya "Pengaruh Kehadiran Muhamad Firhan Al Ghozali dalam Kehidupan Fina Rahmah"?

Lucu kayaknya, ntar ada latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat. Habis itu bab berikutnya, teori dari al-qur'an, buku atau kitab atau hadist. Bab selanjutnya, tempat dan waktu, metode, tekniknya kayak gimana. Bab selanjutnya, hasil dan pembahasan. Terakhir, saran (untuk aku kamu) dan kesimpulan.


Dari semua itu, aku hanya ingin, kamu tetap menjadi dirimu sendiri. Aku hanya ingin, kamu tidak terlalu keras pada dirimu sendiri. Aku hanya ingin, sesekali kamu hidup untuk dirimu sendiri, bukan berarti egois, hanya saja aku ingin kamu bisa bernapas, sesekali bermain, dan merasakan hidup yang benar-benar hidup. Di kehidupan sekali ini, aku ingin kamu bahagia, benar-benar bahagia. Itu saja. Maka, jangan heran jika dari awal aku menghargai pilihan hidupmu, tanpa banyak tantrum nggak jelas.
Kalau boleh jujur, aku nggak tahu, kamu nyaman ketika aku cerewet (banyak cerita) atau ngga, aku sudah sedikit menahan itu. Rasanya, nemu kalimat bagus, ingin aku kasih lihat di kamu. Nemu tempat bagus, ingin aku tunjukin ke kamu. Rasanya, nemu ide baru, sudut pandang baru ingin aku ceritakan dan masih banyak lagi (Aku sudah sedikit menahan itu). Aku juga bingung, kenapa aku jadi gitu ya? Normal kah? Memang gitu kah? Mungkin kalau dulu, 2 atau 3 tahun yang lalu, nggak kayak gini, tapi ini nggak tahu kenapa aku kayak gitu? Makanya ketika kesal pun nggak bisa lama-lama. Kesal itu artinya bukan kecewa atau jengkel karena kamu melakukan sesuatu. Kesal bagi aku itu salah satu perasaan karena aku berharap hal kecil, tapi aku nggak bisa ngungkapin dan aku gengsi untuk bilang apa yang aku butuhkan. Kesal, sama seperti perasaan lainnya, yang seperti mendung. Hanya sementara. Perasaan-perasaan itu, adalah tanggung jawabku dan aku yang bisa mengatasinya.

*rasanya, aku ingin mencetak satu buku khusus untuk kamu. Nggak tahu kenapa, setiap kali nulis tentang kamu, aku menangis terharu, betapa sangat teramat bersyukur nya aku mengenal mu. Sangat. Nyebelin. Emmmm ... Aku sayang.... Sama ikannya maksudku.
*Aku belum punya ide, suatu saat nanti gimana ngasih tulisanku ke kamu, email lagi kah? Nggak. Apa ya? Nggak, nggak, nggak mau kayak sebelumnya, mau yang berbeda. Tapi gimana jika aku tiba-tiba meninggal?(Bukan ingin meninggal, hanya saja itu hal yang paling dekat) Aku wasiatkan ke dek Mpit kah? Aku ingin untuk terakhir kalinya, sajakku, tulisanku tersampaikan kepada pemiliknya. Untuk terakhir kali ini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudut Perpustakaan

Wishlist Buku Favoritku

Resep Segelas Caramel Macchiato