Fina Gila, Tapi Aku Suka
Aku ingin menulis what if, yang dulunya pernah aku bayangkan jika itu terjadi.
Ini bisa berlaku ke siapapun. Mungkin ada orang di luar sana yang ada dalam kondisi ini. Tulisan ini, untuk kalian...
Tapi tentu saja, tulisan ini kemungkinan hanya menjadi draft saja. Hanya aku simpan.
Wha if...
Ketika ada seseorang yang datang padamu, datang begitu saja. Ya nyaman, ya berbincang mengalir begitu saja, ya sepemikiran. Tapi, seseorang ini masih memiliki rasa pada masa lalunya.
What if,
Ketika kalian sudah sedekat itu...
What if,
Masa lalunya datang, dengan rasa yang sama dan berubah...
Kalian bisa menduga apa yang terjadi?
What if, semua itu terjadi,
Kita bisa menduga apa yang terjadi selanjutnya. Setiap manusia, memiliki egonya masing-masing. Tidak mungkin, ada orang yang dengan sengaja mengesampingkan egonya, tujuannya, keinginannya, perasaannya. Sungguh, jika itu ada yang mengesampingkan itu tanpa kehilangan diri sendiri, betapa gila dan anehnya orang ini.
What if, itu terjadi....
Kita sama-sama tahu, mereka akan kembali bukan?
Kita memahami perasaan mereka, kita memahami pilihan mereka. Kita hanya bisa menerima itu, mengesampingkan semua ego, keinginan dan perasaan diri sendiri, dengan dalih tidak mau egois. Tapi bagaimana pun, kita juga tidak bisa memaksa orang untuk memilih atau mengesampingakn perasaannya.
Ketika kesadaran itu datang di awal, rasanya tidak begitu berat. Tidak terlalu berat untuk what if yang lebih ringan.
Aku tahu perasaan-perasaan itu. Semua itu pernah terjadi, tidak asing dan tidak heran lagi.
"Oh, lagi dan lagi, aku hanya asik diajak ngobrol."
"Oh, ternyata lagi dan lagi, orang hanya menyukai diluar dai diriku sendiri."
Kita hanya bisa membangun tembok semakin tinggi pada dunia luar.
Batasan dengan dunia luar semakin jelas dan tebal.
Kita akan jauh lebih hati-hati lagi dengan orang lain yang datang, pun ketika orang berikutnya datang.
Pola itu akan sama, dan kita tidak asing.
Ada batas yang tipis antara kesadaran dan risiko. Dan ketika kesadaan datang di awal, membentuk berbagai what if, tahu berbagai risiko, keputusan untuk memilih semakin berat tapi disisi lain pondasinya juga semakin kuat.
Aku tidak tahu, berbagai what if itu baik atau tidak. Tapi keberadaan what if, membuatku sadar, membuatku sabar danembuatku menerima berbagai bentuk kenyataan dan kemungkinan.
Berat, sakit, tapi begitulah hidup, begitulah manusia dengan masing-masing egonya.
Jika bukan aku yang memilih diriku sendiri, lalu siapa lagi?
Jika bukan aku yang perduli dengan perasaanku, lalu siapa lagi?
Aku tidak ingin kehilangan diriku lagi seperti dulu. Aku tidak ingin kehilangan batas lagi.
Jadi, kali ini dari awal aku bentuk dari batas, kesadaran, what if, dan perasaanku.
Terkadang, dibeberapa situasi tidak sekuat itu, tapi mencoba untuk kuat.
Bukan, bukan karena dia.
Tokoh di dalam ini bisa siapapun.
Bisa jadi, ini bukan dia, tapi kondisinya seperti ini. Ini bisa manusia siapapun.
Tapi, iya, what if ini dari kisahku kepadanya.
What if ini terbentuk di awal.
Terbentuk hubungan sesama manusia yang masing-masing membawa harapan dan memilki ego.
Aku tahu di awal perasaan dia, aku tahu dan sadar dari berbagai kemungkinan/what if, aku pun tahu perasaanku bahkan perasaan yang akan datang pada diriku, aku tahu proses move on.
Jadi dari awal, dari berbagai what if, aku bisa membayangkan dari berbagai what if apa yang akan aku rasakan dan bagaimana cara aku mengatasi perasaan itu. Itulah kenapa ada ide 1 minggu di Tawangmangu nulis menyelesaikan epilog buku dan berbaur dengan warga sekitar.
Dari berbagai what if, aku mengatasi what if yang tidak aku inginkan, yang paling sulit dihadapi dan paling sulit menerima kenyataannya.
Jadi, dampak berikutnya:
- Apapun yang terjadi, aku lebih siap bahkan perasan terburuk sekalipun.
- Aku rasa, ada kesadaran sekaligus perasaan, menerima dan menghargai.
- Emosinya agak lebih stabil (mungkin sih, ya masih naik turunnya sebagaimana perempuan sih).
- Ada batas antara perasaan diri sendiri dan perasaan dia, jadi nggak emosional (apa mungkin dari masa laluku yang menceritakan pacarnya padaku, jadi aku terbiasa?).
- Aku masih aku yang biasanya, meskipun berbagai gejolak emosi dia, ya itu urusan dia bukan? Itu adalah perasaan dia, tanggung jawab perasaannya, bukan aku. Aku tidak masuk dalam emosinya? Gini kah?
- Ya karena aku percaya juga sih, apapun pilihan dia, itu sudah melalui pertimbangan yang panjang, memikirkan berkali-kali, melihat dai berbagai risiko yang diambil untuk hidup dia. Jadi, kalau bukan aku, dia bukan sedang menolak diriku, hanya saja aku tidak sesuai dengan hidup dia. Yah, benar apa analogi dia, ibarat gembok dan kunci.
- Kalau dipikir ulang lagi, aku juga nggak ada ruginya. Why? Aku merasa "Fina, gila kamu keren banget. Ih Fina, semakin jatuh cinta pada diriku. Kamu sangat tahu perasaanmu, tapi kamu juga menjalaninya dengan kesadaran dan tetap memilih itu dengan berbagai what if yang kamu ciptakan. Kalau buat novel, aku jadikan kamu juru kunci dalam novel itu. Bukan, kamu bukan hanya sekedar tokoh utama. Aku suka prbolem solving kamu, bahkan kamu mempersiapkan apa yang kamu lakukan ketika kamu menghadapi itu. Ada kasus sekaligus penyelesaian, beratnya adalah ada kesadaran dan perasaan yang mengikuti. Berat memang, cuma kamu bisa kok. Aku yakin di masa mendatang rumus/racikanmu makin gila dan jauh lebih keren. Aku tunggu itu."
Baru kali ini, aku memuji diriku sebegitu hebatnya. Lebih hebat dari sekedar skripsi dan perasaan yang lalu. Fina ini berbanding balik dengan fina yang bodoh itu.
Fina... Niatan tulisan ini, hanya menyampaikan what if lama itu, kok malah berakhir jadi memujimu? Tapi serius sih, kali ini aku bangga.
Dari kejadian semua ini, kesadaran perasaanku dan perasaan dia pun aku tahu perasaan dia yang belum selesai. Aku jadi tahu lagi bagaimana diriku. Jadi, kelihatannya itu kisah menyedihkan sekali kan ya? Dari pov lain sebagai aku dikondisiku, itu hal yang menyakitkan dan kasihan, ya kan?
Sebenernya tidak juga sih. Aneh. Tapi gini kenyataannya. Aku semakin kagum sama diriku. Aku semakin tahu bagaimana tingkatan diriku dalam menghadapi dan menyelesaikan perasaan, apa yang terjadi dan mempersiapkan apa yang akan terjadi. Gila Fina.... Kamu gila sih.
Kalau dipikir lagi, kok bisa ya?
Pas dijalanin awalnya memang ada air mata, ketakutan, kekhawatiran, berbagai trauma muncul, takut terjadi hal yang sama, diabaikan, bingung, penerimaan, tanpa tahu dampak dari sudut lain. Dan ketika semua sudah terlewat, baru sadar adanya sudut itu, jadi dari situ aku menyadari aku gila. Hah? Kok bisa? Aku juga gak tahu dan gak sadar, cuma jalanin aja, rasain aja, sadar.
Jujur saja, sampai dititik ini, kalaupun dia bukan untukku, pun what if dia memilih masa lalunya, aku menerima itu dangan ringan dan ikhlas dengan beribu kali keikhlasan.
Bukan karena aku tidak suka dia, tidak lagi tertarik, tidak sayang, hanya saja ada cinta yang luar biasa melebihi apapun, yaitu cintaku untuk diriku sendiri, aku yang diam-diam semakin mengagumi diriku dan cerita kebetulan-kebetualn kecilku berkat-Nya, Maha Penulis Buku Kehidupan, Maha Pemberi dan Memberi Cinta.
Ah.... Fina... Terima kasih banyak, sangat-sangat banyak atas proses hidupmu, semuanya. Aku tahu, kamu mencoba dan berusaha mengatasi dirimu sendiri, yang mana kadang kala terasa berat, gagal-coba lagi, menahan, hanya dirimu sendiri yang tahu detail perasaan dan kejadian hidupmu. Tapi terima kasih, sungguh terima kasihðŸ˜
Aku nggak tahu, apa yang akan terjadi ke depan, tapi aku tahu kamu akan jauh lebih hebat dari ini. Jikalau pun tidak, yakinlah sisi itu hanya belum terlihat saja, kamu hanya menjalani dan merasakannya. Mungkin dampaknya bukan saat itu, bukan tahun depan seperti kejadian ini, mungkin dampaknya terasa 20 tahun di masa mendatang dan kamu lupa cerita di masa lalu.
Fina sudah berbeda, fina sudah tidak seperti fina yang bodoh saat itu. Panjang dan sejauh ini. Aku terharu 😠Gila Hidden Home, se-hidden ini.
Entah lah, meskipun aneh, aku juga berterima kasih, atas kehadiran dia dalam hidupku, perasaan dia, kejujuran dia padaku, aku bisa sampai aku di titik ini. Kejujuran dia padaku di awal, membentuk kesadaranku dan berbagai what if itu. Ya meskipun jujur itu berat aku terima, tapi kejujuran dia itu membuat aku jujur juga dengan perasaanku dan itulah yang membuat aku sadar.
Hem...
Aneh kan terima kasih versiku?
Bukankah harusnya aku sebel sama kamu? Bukankah seharusnya aku benci kamu, menjauh dari awal, sakit hati?
Tetapi, jika kamu tahu, begitulah yang terjadi. Dan kamu berhak kok, sangat berhak untuk menerima terima kasih itu, perasaanku, kegilaanku itu dan 4 musimku, karena aku memberi itu tanpa transaksional.
Jadi, sebenernya aku memberikan ruang untuk kamu bukan untukku, jika kamu butuh itu. Aku baik-baik saja, karena ini aku. Gila kan?
Ah, aku suka ceritaku. Karena ceritaku dari-Nya dan aku menerima bahkan sebelum terjadi atau belum tentu terjadi. Aku juga percaya kepada-Nya, atas apa yang Allah berikan ketetapan padaku. Allah memfilter ceritaku, memilih yang terbaik dan menurut Allah aku mampu menghadapi apa yang belum terjadi atau sedang terjadi. Sesuai kemampuanku, jika nggak Allah akan memfilter, jika belum Allah akan menunda.
Bukankah Allah yang lebih tahu apa yang belum terjadi? dan segala makna dibalik kejadian yang kita nggak sadar akan makna itu? Itulah salah satu bentuk perlindungan dari-Nya, Allah yang Maha Melindungi. Itulah salah satu bentuk kasih terkecil dari-Nya, Allah Maha Pengasih.
Inilah manusia, yang sering kali lupa dan lalai.
Komentar
Posting Komentar