Postingan

Menampilkan postingan dari 2024
Malam yang kesekian, Aku berjumpa lagi denganmu di jalan, Namun kali ini tanpa percakapan, Kau begitu saja melaluiku. Ingin rasanya aku menyapa, Namun ego menarikku kembali, Aku membisu, Malampun turut menyertai kesunyian ini, Seolah mendukungku untuk tidak menyapamu.
Kaupun tahu, kalau hidup ini hanya sekali, Lakukan yang terbaik kawan, Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, Baca buku yang kau suka, Pergilah ke tempat yang ingin kamu kunjungi. Perjuangkan apa yang ingin kamu perjuangkan, Bermimpilah setinggi harapan tetangga, Namun jangan dengarkan kata-kata mereka, Kata-kata yang membuatmu terluka, Orang lain ngga tau perjuanganmu, Orang lain ngga perduli prosesmu. Langkah kecil yang tak terlihat itu, Langkah yang bahkan sering kau abaikan, Hanya karena omongan orang yang benar-benar tidak mengenalmu, Langkah kecil itulah yang akan membersamaimu di masa mendatang, Langkah yang akan menemanimu seberapa jauh kau melangkah pergi.
Apa yang kau harapkan? Apa yang kau cari? Kau selalu saja merasa sesuatu yang ia lakukan untukmu, Kau mencari tahu makna lagu story instagramnya, Mengartikan caption postingan dia apakah tertuju untukmu, Ia menulis sajak cinta lalu kau terbuai dalam aksaranya, Merasa dan selalu merasa dunia ini berpusat padamu. Hai… Dia saja membalas singkat pesanmu, Setiap kali kau kirim pesan, Ingin segera dia mengakhirinya. Kode-kode yang kau sampaikan lewat story, Hanya ia lalui begitu saja, Seolah itu bukan hal besar. Hai… Bisa saja sajak-sajak itu sudah bertuan, Dan itu bukan kamu orangnya. Jika memang kamu orangnya, Dia akan selalu cari cara untuk mencuri waktumu. Ingat! Jangan merasa dunia ini berpusat padamu
Berjumpa lagi pada musim yang sama, Bulan yang sama, Masih saja menantinya? Lautpun mulai bosan dengan ceritamu tentangnya,  Dentuman ombak meredam bising rindumu padanya, Hembusan angin tak ingin menyampaikan pesanmu padanya.
Akan ada dimana, Aku menyukai seseorang, Yang tidak pernah sedikitpun terbesit akan menaruh hati padanya. Dia tidak datang secara tiba-tiba, hanya saja dia tidak ada dalam rencanaku sebelumnya. Tanpa sengaja aku jatuh cinta padanya, Tanpa sengaja aku mulai menanti, Aku menantikan percakapan sepulang kerja, Aku menantikan obrolan ringan sesekali tertawa, Aku menantikan kalimat penenangnya, Sesekali aku dan dia mendengarkan lagu yang sama, Mungkin banyak hal yang sama antara aku dan dia, Jadi tidak terlalu sulit untuk sekedar bercengkrama. Mulailah, aku merasa seolah menjadi rumah, Dan aku pun merasa aman berada di dekatnya. Semakin besar rasa itu, Semakin besar juga ketakutanku, Ketakutan dari kata “pergi”. Aku pun menyadari, Dia hanya satu di dunia ini, Tidak ada versi dia yang lain. Aku hanya takut dia pergi. Itu aja.
Terkadang seseorang memilih pergi, Bukan karena perasaannya sudah hilang, Tapi karena khawatir rasa itu semakin besar, Dan puncak ketakutan terbesarnya adalah, Semakin dekat, semakin besar ketakutan merasakan kehilangan (lagi). Terlalu letih untuk mengulang alur yang sama berulang kali.
Sungguh, kita se asing ini? Tanpa percakapan meski hanya berjarak dua langkah, Apakah sunggih kita se asing ini? Untuk memulai percakapan yang berakhir canggung. Ada apa denganmu? Ada apa denganku? Ada apa diantara kita? Eamang ada apa diantara kita hingga se asing ini? Sungguh, aku tak ingin mengganggu, aku hanya takut kamu pergi, hanya itu. Yang benar nyatanya kamu pergi.

Sajak Tak Terduga

Sebelum mengenalnya, Sebelum mengetahui namanya, Ia begitu saja masuk dalam sajakku, Setiap kata tertulis begitu saja ketika melihatnya, Meski hanya bayangan dari pantulan kaca, Hanya dari cara ia menaikkan kaca mata, Hanya dari ketika ia terdiam mengerjakan kerjaannya, Dengan mudahnya aku menuliskan sajak tentangmu.

Hujan di Bulan September

Sialnya, kamu datang ketika musim hujan, Aku yang sebelumnya membenci hujan ini, Kini menikmatinya dan bahkan menantinya, Saat turun hujan dalam satu ruang, Dan kita menatap jendela yang sama. Kita terjebak dalam rintik hujan, Kau menjelaskan secara sederhana, Tentang bangunan dan ruang, Aku menikmatinya, Menikmati setiap kata yang terucap, Menikmati ketika kau begitu antusias menjelaskan suatu hal, Menikmati ketika kau berusaha melucu, Namun aku yang lola ini harus mikir dulu, Maafkan aku, Tapi sungguh aku menghargai usahamu itu, Terima kasih telah menjadi hujanku, Dan untungnya itu kamu. Suatu sore satu ruang denganmu, di kursi favoritku.

Percakapan Antara Permen dan Stop Kontak

 Pada akhirnya aku menyapanya, Terjadi begitu saja, Melalui stop kontak yang ia bawa, Aku membalasnya dengan permen dua warna. Kini aku maish menatapnya, Dia menggunakan kaca mata, Menandakan ia fokus dengan kerjaannya. Sungguh aku tidak ingin mengganggu, Hanya memberinya permen kopiko satu per satu, Sesekali aku menatap keduanya, Entah orangnya ataupun kerjaannya, Aku hanya ingin berkata, Bahwa kini aku bisa menulis di sampingnya. Ketika ia duduk di kursi favoritku, dan aku duduk di sampingnya.

Sudut Perpustakaan

Kau tahu? Bagaimana rasanya membaca buku, namun yang aku baca bukanlah tulisan dalam buku itu, melaikan wajahmu, sosok dirimu dibelakang buku yang sedang aku baca, aku membaca ekspresimu, menerka apa yang sedang kamu kerjakan. Temapat dudukmu terpaut satu bangku dariku, namun aku tidak berani menyapa, hanya menatapmu dari belakang buku yang sedang aku bawa. Kau tau? Bagaimana rasanya tersenyum, namun bukan karena cerita dari buku yang aku baca, melainkan jarimu yang sedang menaikkan kaca mata. Kau tau? Aku sering menatap kaca, karena didalamnya ada bayanganmu, terpantul dirimu yang sedang mengerjakan sesuatu Kau tau? Kini sudah menjadi kebiasaanku, mencarimu disatu sudut kursi favoritmu.
September, Aku menghentikan air yang mengalir, Aku tamping air itu, Dalam Waduk Gajah Mungkur. Bulan-bulan setelahnya, Hujan kian menghujam bagai bara, Awan abu memeluk baskara, Air waduk muntah ruah, Seolah menyusut bak bejana. Desember, Hujan terhenti, Akankah menjadi akhir? Atau kan menyapa banjir? Air kan terus menyusuri takdir, Kan menyapa di ujung hilir, Tertoreh dalam syair.
Hal yang paling menyebalkan adalah: Ketika tanpa sengaja menemukan namamu dalam buku yang aku baca, Aku beralih ke buku yang lain, Lebih mengejutkan kembali karena, Aku membaca kisahku tentangmu dalam buku yang aku baca ini.
Aku membeli seribu pohon untuk menggantikan kesedihanku, Aku tanam seribu pohon bersama kenangan itu, Biarkan kenagan tentangmu tertimbun bersama akar yang semakin subur. Namun ternyata aku hanya mampu membeli satu pena, Satu pena ini membuatku menulis seribu surat yang tak ingin ku sampaikan padamu. 
Tulisan ini untukmu, Dan suatu saat nanti kan ku tunjukkan seluruh sajakku untukmu, Akan ku tunjukkan playlist spotify favoritku, Akan ku pinjamkan seluruh buku yang aku miliki, Semoga aku masih hidup, Aku masih diperizinkan Tuhanku untuk mengabadikan dirimu, Dalam setiap goresan tanganku. Aku tetap masih menantikan saat itu tiba, Dengan rasa kesepian dan segala rasa yang ku tahan. Sebelum kau datang menemani hariku, Sebenarnya aku tidak terlalu sepi, Ada cowok fiksi, husbu dan aktor favoritku, Akan ku perkenalkan satu persatu dengan antusias, Saat itu tiba, aku harap kau tak bosan ya. Aku memiliki masa lalu, Dan akan ku pastikan kamu tidak cemburu akan hal itu. Hai… bahkan sebelum kamu datang, Sajakku sudah banyak tentangmu. Oh iya, semoga genre film kita sama ya, Biar ngga bingung mau nonton apa. Percayalah, saat tulisan ini tiba di kamu, Aku sudah menganggap tulisan ini begitu alai. 
Aku melihatnya bagai langit di kala senja, Aku melihatnya bagai bulan purnama di langit yang gelap. Bagiku ia bukan bintang, Satu dari sekian banyak. Dia bagai porselen antik yang ku simpan dalam etalase, Tak kan ku izinkan diriku untuk menyentuhnya, Apalagi orang lain. Hanya cukup mengagumi dari bumi, Hanya cukup menjaganya agar porselen antik itu tidak pecah. Namun, aku bukanlah seniman yang menciptakan porselen antik itu, Ketika pemilik porselen antik itu mengambil alih bahkan memegangnya, Aku tidak bisa melarang, Karena itu porselen itu miliknya. Aku tidak bisa melihat porselen antik itu lagi, Aku tidak bisa menatapnya lagi, Tapi aku senang porselen antik itu tidak pecah, Ketika pemilik porselen antik menitipkannya padaku. Ku harap, porselen antik tiba di museum yang tepat, Kalau tidak, Kembalikan saja padaku kalau begitu, Kan ku jaga bagai bayi beruang kutub. 

Si Tanpa Nama

Kepada sajak tanpa nama, Aku ingin sajakku ini bernyawa, Aku ingin sajakku ini meneriakimu entah dimana. Kepada sajak tak bernyawa, Akan kau bawa kemana sajakmu ini, Tertimbun rapi dalam juwantara, Atau tersampaikan kepada si tanpa nama. Kepada si tanpa nama, Entah kau sedang mendaki Gunung Himalaya, Atau menaungi Selat Malaka, Dimanapun berada, Ingatlah, sajak tanpa nyawa ini hanya milikmu semata
Berkali-kali ku buat sajak cinta, Namun aku sendiri tak mengerti cinta itu apa, Bahkan kata “cinta” itu terasa asing. Berkali-kali aku baca novel romansa, Tetap saja aku tak tau bagaimana rasanya, Apakah rasanya seperti jatuh cinta saat remaja? Berkali-kali aku nonton drama korea bahkan china, Namun lagi-lagi aku tak mengerti seperti apa dan bagaimana. Aku terlalu bingung dengan perasaanku, Aku tak tau apa artinya, Atau sebenarnya aku cukup tau. Namun aku terlalu takut untuk mengakuinya, Aku takut terjadi hal yang sama, Sehingga tanpa sadar aku membangun benteng pertahanan. Namun temanku berkata, “Apa salahnya gagal? Apa salahnya jatuh cinta? Bukankah kita hidup belajar dari kegagalan dan luka?” Akhirnya aku mengakuinya, Setidaknya aku mengakui pada diriku sendiri.
Sederhananya aku mencintainya, Aku mencintainya hingga rasanya, Aku ingin mengabadikannya dalam setiap karya. Aku becitu mencintainya hingga namanya, Tak pernah alpa dalam setiap sujud malam. Sederhananya aku mencintainya, Dengan beribu sebab dan alasan, Baik buruknya, Segala hal yang membuat orang lain muak, Tapi tidak bagiku. Ketika seluruh dunia membencinya, Seluruh dunia tak lagi percaya padanya, Tapi ingatlah, selalu ada satu orang yang percaya ucapanmu, Yaitu aku. Sederhananya aku mencintainya, Tak perlu kau tahu seberapa besar. Aku selalu mendukungmu, Aku selalu berada di belakang jejakmu, Aku siap menyambarmu ketika kau terjatuh, Akan selalu ada aku di belakangmu. Tak perlu kau tau hingga membuatmu iba, Merasa bersalah atas rasaku ini. Aku tak ingin mengusik hingga membuatmu terusik, Lanjutkan hidupku walaupun tanpa aku dalam setiap rencanamu, Kan ku lanjutkan hidupku sebagai pengagum senjamu. Sederhananya aku mencintaimu tanpa perlu kau tahu itu.

Fall in Love

Jatuh cintalah... Fall in love when you're young, fall in love when your mind is still simple, think of him before going to bed, smile when you remember your time with him, give small attention so that you're excited to live life. Fall in love even though you may not be together one day, enjoy your togetherness, make beautiful memories, start in a beautiful way and end with sincere prayers. That's the best way to fall in love, in the future you'll tell the story with a smile, with a sense of pride for having known him. Yeah... Even if it was just being friends and even if you never had him. Sometimes, i still remember him, he's still an inspiration in my work, without the feelings, not with the person just the memories. Be grateful to the time when you knew him, even if he made you cry, altough you're so disappointes. Jika kamu pikir kembali, you learned many things from him, you once smiled because of a small thing about him, his name was just mentioned your ea...

Tuan dan Persaingan

Tuan... Apa yang kau lakukan dengan rayuanmu terhadap Tuhanmu? Apa amalanmu hingga do'a-do'a mu begitu kuat? Tuan... Apakah ini karena do'a mu itu? Atau karena begitu sayangnya Tuhan terhadap diriku?   Atau juga karena keduanya hingga setiapkali ada yang mendekat untuk bermain akan terasa ilfil terhadap diri sendiri. Jika aku mengikuti permainan selalu merasa akan kalah sebelum memulai. Apakah sebenarnya tuanlah yang menantang saya dalam urusan ini? Bersaing siapa yang kuat hingga akhir. Lihat saja tuan, aku terima tantanganmu itu, Aku akan mencari strategi baru untuk tantanganmu itu. Salam terhadap fajar dimanapun engkau berada

Tanpa Hadirmu

 Tanpa atau adanya dirimu, Aku akan tetap menjadi diriku, Suka atau tidaknya kamu terhadapku, Aku tidak akan pernah kehilangan diriku lagi. Silahkan jika ingin pergi, Silahkan jika ingin cari pengganti, Namun jangan harap aku tetap diposisi, Jika nantinya kau berpikir tuk kembali.

Suatu Rasa

Rasa ini sungguh menyiksa, Pikiran tak fokus entah kemana, Hati gundah gulana, Bagaikan kopi tanpa gula. Otakku bertanya-tanya, Entah salahnya dimana, Ragaku pun ikut resah, Ya sudah hanya bisa pasrah. Sungguh sekali lagi, Rasa ini sungguh menyiksa, Rasa yang saat ini aku alami, Sebatas rasa lapar yang memuatku dilema.

Wanita Halalmu

Teruntuk seseorang yang pernah menjadi sajakku. Hai pelengkap sajakku, Karenamu aku memasuki dunia sastra, Dulu ketika aku masih menyimpan rasa, Yang hanya kusampaikan lewat aksara, Dan aku percaya sajakku tak akan terbaca. Karenamu aku memiliki rasa, Seperti kisah anak remaja, Sayangnya aku lebih menikmati pertemanan kita, Dan aku pikir rasa itu akan segera sirna. Karenamu aku terjatuh terlalu lama, Aku mencoba bersikap seolah biasa saja, Tapi tidak bisa, Aku masih tetap salting brutal ketika ada teman menggodaku. Karenamu aku belajar bagaimana sikapku terhadap rasa yang aku miliki. Bahkan diulangpun aku akan memilih pilihan yang sama, Kalaupun kamu ada rasa yang sama, Itu tetap menjadi pilihanku yang tidak akan pernah aku sesali. Teruntuk hari bahagiamu besok, Aku turut berbahagia, Akhirnya kamu menemukan wanita halalmu, Yang sayangnya harusnya aku dulu, Tetapi ternyata kamu mendahuluiku, Padahal aku ingin datang ke pernikahanmu, dengan gandengan halalku. Teruntuk wanita halalmu, Sal...