Ternyata bukan 20% tapi 10%
Tulisan ini, bukan untuk menilai dia dalam berupa angka berapa. Dia tidak bisa di nilai dan dia tak ternilai. Bukan dia tidak punya nilai, dia tidak bisa di nilai karena angka tidak mampu menggapai nilai dalam dirinya (∞).
Aku ubah 10%, bukan karena dia telah melakukan sesuatu atau menghasilkan sesuatu. Aku ubah dari 20% ke 10%, karena aku semakin megenalnya (sebelumnya belum sebegitu kenal, ya sekarang pun juga belum kenal sebanyak itu juga sih).
Aku semakin mengetahui, bahwa dia juga langka.
Coba,
Bagaimana bisa, ada seseorang yang mendukung istrinya untuk belajar? Meskipun sudah menikah.
Aku melihat, dan mendengarkan cerita di lingkunganku, justru itu membuat laki-laki semakin insecure? Bukankah itu membuat laki-laki semakin takut? Bukankah itu membuat laki-laki semakin mundur atau defensif?
Kenapa dia justru mendukung?
Siapa perempuan yang beruntung itu? Heh?
Hanya orang yang tahu nilai dirinya, yang berani bertindak seperti ini.
Hanya orang tertentu yang paham dan mengerti, bahwa masing-masing berusaha membawa bekal, bukan bersaing.
Haya orang tertentu yang mengerti, bahwa perempuan belajar untuk membangun dirinya agar tidak terjerumus ke parasaannya (rasa cemas, khawatir, takut dll). Untuk nanti ketika menikah siap berpartner, bukan saling menuntut peran atau suami jadi pengganti sosok ayah. Untuk perempuan itu sendiri mendampingi suaminya dan bagaimana merespon berbagai gejolak hidup.
Aku tahu, laki-laki sebagai pemimpin, laki-laki sebagai pembimbing, tapi bukan berarti semua ditumpahkan ke laki-laki. Udah berat, semakin berat bukan?
Bedakan antara sebagai pemimpin dan sebagai pengasuh.
Juga, bagaimana pun, laki-laki tetaplah manusia; punya emosi, punya rasa, merasakan letih juga, bisa sakit fisiknya, bisa sakit perasaannya, bisa stres.
Bukan hanya perempuan saja dengan berbagai mood bulanannya.
Jadi, bukan hanya selalu ingin dimengerti, tapi mencobalah untuk mengerti juga.
Lihatlah laki-laki sebagai manusia juga, yang memiliki perasaan dan emosi sama seperti perempuan.
Bagaimana bisa dia mendukung istrinya untuk belajar?
Itu karena, mungkin saja, dia sebagai laki-laki yang melihat dari berbagai sisi, mempertimbangakan dampak perempuan belajar, atau mungkin saja merasakan dampak pada dirinya sendiri, jadi keputusannya seperti itu.
Jadi, kesimpulan dari keseluruhan. Siapa perempuan beruntung itu?
Nggak bisa d kloning pula. Cuma satu pula.
Duh, lama kelamaan, kalau semakin kenal ntar dia jadi manusia 0,00005%.
Kayaknya, masih banyak yang tidak aku ketahui tentang dia, apa yang ada di kepalanya.
Jangan-jangan Bang Firhan adalah Tuan Muda Ali. Nggak ada yang tahu kan... Cara Tuan Muda Ali bertindak sama polanya kayak Bang Firhan. Badas.
*Maybe bagian ini masuk Hidden Home, mungkin juga sih. Biar dia suatu saat nanti bisa baca.
Komentar
Posting Komentar