Racikan Bumbu Masalah Hidup

"Sabar itu ada batasnya."
Kalau konteksnya untuk sabar bagaimana orang lain bersikap itu ya, bisa sih masuk.
Tapi, seringkali kita mengalami sesuatu yang mengharuskan kita sabar. Ini konteksnya tidak bisa dihindari dan tanpa duga.

Sebenernya, ada berbagai macam cara untuk mencapai sabar.
Tiap orang memiliki cara yang berbeda.
Tiap konflik, cara mencapai sabar itu juga berbeda, meyesuaikan kondisi.

Kalaau itu sabar ke orang, pakai kombinasi empati, memahami (pastinya sudah mengenal latar belakang atau kisah hidup), baru muncul menerima. Setelah penerimaan, sabar pun jadi lebih mudah.
Kalau suatu kejadian, kombinasinya kesadaran dan penerimaan, lalu sabar menyusul dengan sendirinya.

Aku rasa, yang paling susah itu bukan sabarnya, tapi proses penerimaan dan kesadaran. Karena setelah kedua proses itu sudah dilalui, sabar dan berserah jauh lebih mudah.

Tiap orang memiliki racikannya sendiri. Dan racikan itu terbentuk dari berbagai permasalahan yang telah dihadapi.

Menyelesaikan suatu masalah/konflik itu butuh skill, ya skill problem solving tentunya.
Semakin banyak masalah/konflik yang terjadi; semakin banyak pula data yang masuk, semakin banyak mengenal berbagai pola, trial errornya, berbagai kombinasi dicoba, justru ini membuat manusia mengenal dirinya lebih dalam dan membuat manusia naik level. Gimana naik level?
Bukankah, dari berbagai masalah yang dihadapi dan semua yang udah aku sebutkan tadi, ibaratnya kayak kita mengerjakan soal matematika.
Dalam soal matematika, kita menggunakan rumus yang sama, cuma beda angka.
Berbagai masalah hidup, ibarat angka yang bisa berubah berapa jumlahnya.
Dan problem solving atau kombinasi itu, ibarat rumus. Rumus yang mana, tergantung konteks soalnya apa.
Keren bukan?
Maksudnya yang keren bukan tulisanku, tapi bagaimana Allah menghadirkan masalah dalam hidup manusia.

Permasalahan yang umum terjadi adalah:
Orang terlalu fokus ke masalah atau sumber masalah,
Terlalu fokus siapa yang salah atau takut salah,
Fokus juga ke ego dan emosinya,
Fokus ke penyesalan dalam diri,
Sehingga yang terjadi, buntu, stres, tertekan dll.

Sebenernya, itu bukan masalah utamanya. Efek dari masalah itu, nggak papa dirasakan. Tapi ada kadarnya.
Mungkin yang terjadi pertama adalah pikiran penuh, kortisol naik, emosi tidak terkontrol, lebih mudah sensitif, meluap, detak jantung terasa cepat, napas lebih pendek.

Nah, ini bedanya...
Efek semua itu normal. Tubuh bereaksi seperti itu normal.
Apa yang berbeda?
Inilah kita butuh mengenali diri sendiri. Ini dampaknya luar biasa.
Cara setiap orang tentu berbeda.
Kenali apa pemicunya. Beri jarak dengan pemicu itu. Lalu, fokus dulu ke emosi, agar kortisol turun, tekanan darah, detak jantung, napas stabil, atau melakukan sesuatu yang membuat perasaan membaik atau tenang. Hindari paparan sosial media, hal eksternal yang mana itu belum tentu fakta, atau pemicu yang membuat semakin panas lagi. Setelah itu, kombinasi bisa diracik sendiri.
Aku rasa, setelah tenang, bisa berpikir normal sebagaimana manusia logis dan bawaan dari sananya yang diberi otak dan akal.

Keren bukan?
Bukan tulisanku, tapi kejadian Oktober yang drama itu jadi inspirasiku. Dan pengenalan pola ini dari situ. Jadi, kerennya bukan tulisanku tapi drama alay Oktober itu.
Aku juga bingung sih, maksudnya itu kejadian atau masalah ya. Tapi aku nggak tahu sudut pandang dia gimana, POV dia gimana. Cuma, di aku, jujur saja, satu kejadian tapi aku mempelajari banyak hal sekaligus. Ini baru satu topik dari kejadian itu, belum topik lainnya.
Terima kasih drama Oktober, jadi inspirasiku.
Orang gila mana coba, suatu konflik dijadikan inspirasi?
Tapi, sungguh, itu membuat aku tumbuh. Racikanku biar semakin beragam.

Jujur saja sih. Aku bukan menantang masalah. Aku bukan sengaja buat maslah. Ngapain juga sengaja buat masalah, tanpa diminta pun masalah muncul dengan sendirinya.
Dulu, aku pernah (kisaran bulan Juni kalau nggak salah), aku pernah bilang sama diriku dan Meme "Aku justru penasaran, bagaimana cara aku dan dia menyelesaikan masalah".
Bukan menantang masalah atau cari masalah.
Cuma, konfilk itu akan selalu ada kapanpun. Entah dari internal maupun eksternal.
Mungkin saat sendirian atau aku sedang berkonflik dengan orang luar aku bisa (ya karena itu bukan dia, jadi nggak ada feel apapun). Tapi beda lagi jika masalah itu sama dia, gejolak perasaannya lebih terasa, emosi lebih sensitif dan itu yang aku rasakan. Jadi tingkatan lebih berat aslinya, jadi aku penasaran. Aku penasarannya bukan sama dia, tapi akunya.
Aku nggak penasaran sama dia itu, karena aku tahu tingkat kesabaran dia diatasku. Kisah hidup, pengalaman, berbagai gejolak perasaan, konflik yang datang pergi silih berganti, itu mempengaruhi problem solving dia dan tentunya dia mengenal pola dalam dirinya. Karena itu, aku nggak penasaran, karena dia jauh lebih keren dariku, dari tulisanku.
Keran kan? dia? Aku jadi nggak ingin di bukukan, biarkan yang tahu cuma aku. Nggak mau orang lain tau. Aku aja yang tau. Ntar pembacaku, jadi suka dia gimana. Bakal sering panas dan gerah ntar aku. Nggak mau di bukuin, buat aku aja ceritanya. Nggak mau, orang lain tahu. Aku aja yang tau. Biar aku aja yang tahu betapa kerennya dia.
"Yakin, fin, kamu nggak papa, dia baca kamu yang alay ini?"
Jangan lah, aku masih malu-malu kayak kucing kelabu. Aku filter, aku filter. Tapi nggak juga sih, nggak tahu sih. Dia udah kebiasa kali dengan versi yang alay dan lebay dan malu-maluin.

Tapi nggak papa... Orang lain tau bagaimana kerennya dia.
Aku ingin, pembaca tahu, betapa kerennya dia dalam hidupku dan seberapa beruntunya aku mengenalnya.
Beruntung kan, aku kenal dia? tentu saja.
Wahai para pembacaku, semoga suatu saat nanti kalian dipertemukan dengan diaku versi kalian ya...
Bahwa, ada kok laki-laki seperti ini. Laki-laki yang mana menghormatimu, menghargaimu, mengusahakanmu, menemanimu, mendukung impian dan hobimu, membuatmu lebih mengenal dirimu, membuatmu tumbuh dan menjadi lebih baik, menginspirasimu, kamu bisa mencintai tanpa kehilangan diri, bisa menjadi diri sendiri, (loh, udah banyak ya? aku belum selesai).
Pokonya, apa ya? duh nggak bisa dijelasin lagi. Intinya, kayak ketika menulis dia itu, nggak ada habisnya. Tanpa berpikir dan ngalir aja, balik lagi ke dia. Itu nyata dan beneran ada.
Dulu, aku cuma bisa baca di novel, tapi laki-laki ini nyata. Aku serasa masuk dalam novel dan dia cowok fiksi itu. 

*Hai... Kamu... Ini aku nulis random ya. Tanganku ngalir aja. Rencana awal nggak gini, tapi tangaku dan nggak tahu darimana, tiba-tiba sampai bahas kamu dan kejadian drama itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudut Perpustakaan

Wishlist Buku Favoritku

Resep Segelas Caramel Macchiato