Pertumbuhan Anak
Sebuah keresahan tersendiri bagiku,
Keresahan sekaligus tantangan,
Keresahan sekaligus amanah.
Aku tahu, semakin bertambahnya usia bumi, tahun semakin bertambah, teknologi semakin canggih.
Tantangan yang dihadapi semakin meningkat seiring berjalannya waktu.
Entah itu untuk diri sendiri atau generasi yang akan datang.
Lingkungan, memang tidak bisa dikendalikan, tapi bisa dipilih mana yang lebih mending.
Di awal, persoalanku: di jaman sekarang, banyak anak yang terpapar hp tanpa kontrol, bisa mengakses apapun tanpa batas umur, bisa mendengarkan kalimat kotor atau kasar yang tidak diajarkan dalam keluarga. Orangtua melarang anak atau marah ketika anaknya main hp, tapi sumber masalah orangtua itu sendiri dengan membelikan anak hp. Lingkungan anak terkait hp, itu diluar kontrolku. Jadi, ketika anak memiliki pertemanan dengan kondisi saat ini, itu menjadi PR tersendiri.
Ketika anak tumbuh besar, memasuki usia pertemanan. Aku tahu, akan ada saatnya anak menggunakan hp. Ia ingin seperti temannya. Aku tahu, ketika pertemananya mengetahui atau membahas sesuatu yang ada di hp, anak akan merasa asing jika dia tidak memahami apa yang dibicarakan temannya. Maka, ketika si anak minta hp, dia ingin diterima dilingkungannya.
Bukan masalah hp nya. Tapi usia dia.
Mungkin, usiaku pada jaman itu, permasalahan seputar rebutan teman, mutung pas main, rebutan mainan. Problem solving dapat melalui tindakan, minta maaf, menjelaskan kesalah pahaman, pelukan.
Kalau ini, dampaknya ke kondisi mental, kematangan emosi, melemahkan fokus, kecanduan, dan karena anak belum bisa kontrol diri, maka akan tantrum, bantah, berbohong, memaki, membenci orangtua karena keinginan tidak terpenuhi. PRnya jauh lebih berat. Karakter anak, nilai hidup, kepolosan anak, psikologi, seperti diobrak abrik, hanya pada satu layar yang bisa dipegang tangan mungil.
Golden age, ini fase seperti kertas putih kosong.
Masa awal, masa pembentukan karakter dan pengenalan emosi. Orangtua seagai tempat aman, ruang diskusi, orang yang akan menerima anak bagaimanapun kondisinya, teladan. Di sini, anak akan melihat bagaimana orangtua memperlakukan, mencintai dan menilai diri sendiri. Melihat bagaimana respon dan cara menyelesaikan sesuatu. Regulasi emosi. Gaya hidup. Ucapan. Semua.
Anak adalah siapa orangtuanya.
Benar, jadi mendidik anak jauh sebelum si anak lahir. Mendidik anak dimuali dari diri sendiri.
Bagaiman aku adalah anakku suatu saat nanti.
Dia akan melihat, meniru, menarapkan dan menjadi kebiasaan.
Memaksimalkan diri dalam belajar, berubah, tumbuh, dan berpikir. Sadar bahwa ketika si anak lahir, fokus belajar teori akan berkurang drastis, karena fokus beljar akan beralih ke tumbuh kembang, kesehatan dan saat itu terjadi belajar secara langsung.
Tiba-tiba, aku penasaran.
Ibuku yang tidak suka baca, dan hanya ngasih aku buku. Aku bisa suka baca.
Bagaimana jika, orangtua memberikan teladan membaca dan belajar menjadi sebuah kebiasaan yang menyenangkan, seperti kebutuhan makan harian?
Apa yang akan terjadi dengan si anak?
Aku baru sadar.
Dulu, aku mengenal diriku loading lama, butuh waktu yang lebih lama.
Aku baru tahu alasannya.
Kenapa, aku merasa lebih cepat mengenal emosiku, cara berpikirku, suara di kepalaku, suara di hatiku, puncaknya ada di tahun 2025?
Iya, Bang Firhan memberikan wadah dalam tulisan, dia mendengarkan. Dia memberikan ruang bagiku untuk merenung, berpikir, merasakan dan mengungkapkan. Bang Firhan sering membuka ruang diskusi.
Bagaimana jika ini juga dialami oleh anak?
Ketika suara anak alih-alih dicap cerewet, dia hanya ingin didengarkan, dihargai, mungkin pikiran dia berisik penuh tanya, penuh rasa penasaran
Bagaimana jika anak mendapatkan ruang aman, ruang diskusi, negoisasi daripada mengancam atau menakuti, orangtua sebgai tempat tumbuh. Melihat anak setara dengan kita.
Mungkin, kita mengerti cara untuk bersabar, karena kita pernah sabar berkali-kali. Pernah gagal untuk sabar, lalu mencoba untuk sabar lagi. Kita telah melalui banyak hal dan pengulangan. Tapi tidak dengan si anak. Anak akan kalah dari umur dan pengalaman. Jadi, mengajarkan anak sabar itu dimulai dari menghadapi dia dengan sabar. Anak menghormati orangtua, dimulai dari kita menghormati dia sebagai manusia yang baru lahir dan kita diberi amanah untuk mendidiknya.
Aku hanya sedang berpikir, melihat kondisi lingkungan sekitar. Kekhawatiranku terhadap anak yang tumbuh, berpenampilan, pola pikir dan bertutur kata tidak sesuai umurnya.
Komentar
Posting Komentar