4 Musim yang Kamu Miliki

     Hidup sampai hari ini, dengan semua yang ada pada diri sendiri, terbentuk melalui kumpulan dari berbagai kejadian. Menjadi sebuah pemikiran, pengambilan keputusan, cara pandang, karakter dan segala yang ada pada diri sendiri. Tentunya, setiap orang berbeda, kisahnya berbeda mempengaruhi keunikan tiap masing-masing individu. Adanya keunikan, bukan hanya dari sisi baiknya saja, bukan hanya dari kelebihannya saja, tentunya dengan kekurangan yang dimiliki.
     Benar bahwa, aku belum sepenuhnya mengetahui kekurangan kelebihan yang kamu miliki. Namun, aku ingin kamu tahu bahwa, semua kisah itu adalah bagain dari dirimu, pun kekurangan itu. Tentu, setiap orang pasti memiliki kekurangan, tapi yang membuat berbeda adalah kamu ada usaha untuk tumbuh, kamu manusia 20% itu, kamu mau belajar.
     Aku ingin, kamu tidak harus menghapus kekurangan itu. Manusia ingin menjadi yang lebih baik dari kemarin. Iya, aku setuju. Hanya saja, aku ingin kamu tetap menjadi dirimu dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Daripada merubahmu, atau memintamu jadi ini itu, aku jauh lebih ingin kamu nyaman dengan dirimu sendiri. Iya, beberapa hal kadang bikin aku kesal. Aku kesal bukan karena kamu, bukan karena kamu kurang atau kamu salah, tetapi aku belum memahami bahasa kehidupanmu. Solusinya itu bukan dengan merubah kamu, tapi aku ingin tahu apa yang bikin kamu nyaman dan tidak nyaman, apa yang kamu suka dan tidak suka, apa yang bikin kamu marah, apa hal yang tidak bisa kamu toleransi dan masih banyak lagi. Itu sudut pandangku.
     Sama seperti buku. Ada buku yang aku suka dan tidak terlalu suka. Bukan berarti aku nggak mau lagi baca buku, atau bikin aku nggak suka buku lagi. Sebelum baca, aku nggak tahu buku ini aku suka atau tidak. Ketika aku baca, aku baru tahu. Tapi, bagaimana jika selama hidupku, aku hanya membaca buku yang aku suka aja? membosankan bukan? Bagaimana jika aku bersama dengan orang yang sempurna? Mungkin aku malah bosan. Nah, dengan adanya kekurangan dan kelebihan kamu itulah, justru semakin berwarna, justru memiliki berbagai rasa.
     Anehnya adalah, terkadang aku bisa memilih untuk tantrum, tapi yang terjadi adalah muncul empati. Keinginan untuk kamu nyamannya bagaimana jauh lebih besar daripada keinginan aku untuk diperlakukan. Bukan mengorbankan diri atau mengalah, hanya saja ada kategori mana yang darurat dan mana yang nggak harus sekarang.
     Beberapa situasi aku mengakui bahwa pikiran perempuan itu berisik, sampek kemana-mana. Jadi, yang mereka lawan adalah pemikiran yang ada di kepala. Itulah kenapa, kebanyakan perempuan tantrum, terlebih lagi otak perempuan multitasking, bisa mikir ini, itu, sana, sini, sambil ngerjain ini itu, secara beruntun. Tapi aku rasa, pikiran-pikiran itu bisa dilatih. Dilatih untuk berpikir hal positif, ya meskipun banyak celah menuju ke arah negatif. Kalau menyesuaikan pembahasan ini, karena kamu menceritakan keseharaianmu, kerjaanmu, besok mau ke mana, habis dari mana tanpa aku minta, yang paling kuat juga adalah kamu sudah banyak mentransfer kisah hidupmu. Itu yang membuat aku, lebih mudah untuk memahamimu, lebih mengerti. Ya, meski kadang agak masih "aku nggak mau chat kamu lagi", atau kadang kesal, munculnya cuma sebentar. Lalu hilang.
     Aku nggak tahu, umumnya perempuan itu bagaimana. Tapi, kalau dipikir ya, kerjaan itu udah berat nguras tenaga, pikiran dan energi. Belum lagi ketemu orang memaksakan diri untuk senyum, ramah, baik-baik aja, mau nggak mau memenuhi keinginan mereka jadi terpaksa, itu sangat menguras energi bukan? Jadi, adanya semua itu aja aku nggak tega untuk marah atau egois. Iya, kalau di aku, aku ingin kamu senyamannya aja. Kamu nggak papa bilang nggak bisa telfon, balas pesan dan lain sebagainya. Bukan aku sedang merendahkan diriku, tapi karena aku tahu, aku mengerti dan aku ingin kamu bahagia. Bukankah itu sudah lebih dari cukup. Minusnya jadi kangen aja sih, dan kangen bisa munculin kesal. 
     Lantas, apakah aku bakal bosan? apakah aku pergi? apakah terpikirkan olehku pindah kopi favorit selain Caramel Machiatto? Tidak, semua jawabannya adalah tidak. Hai, tidak semudah itu kawan. Aku tahu bagaimana diriku dan aku tahu apa yang aku mau.
      Aku juga tidak perduli dengan apa yang belum terjadi. Aku juga tidak perduli dengan masa lalu. Aku hanya ingin merasakan, menikmati perasaan yang ada, merawat segala rasa yang ada pada diriku kepadamu. Perasan ini adalah milikku. Dan perasaanmu adalah milikmu. Jika memiliki perasaan yang sama, itu kuasa dari-Nya. Jika tidak, itu juga dari-Nya dan aku harus belajar menerima.

Entah tulisan ini bisa sampai ke kamu atau tidak, entah semua perasaanku diberi kesempatan untuk aku ungkapkan atau tidak. Ketika suatu saat nanti kamu ternyata baca ini, aku ingin kamu tahu bahwa perasaan itu, tidak semudah untuk berubah, hilang atau beralih. Perasaan itu, tetap tinggal di tempatnya, dirawat dengan memberinya pupuk, air dan cahaya matahari yang cukup. Seperti itu. Jadi, bang bersinarlah seperti bunga matahari. Jika belum bersinar seperti bunga matahari, aku percaya akan ada waktunya kok. Akan ada masanya. Aku percaya, karena aku sudah kamu ijinkan membaca beberapa bab buku kehidupanmu.


     🎵
Wish you could always tell me
How to make you happy
I just got no clue
Don't want you feel blue
It's true...
-Thank You 4 Lovin' Me, Paul Partohap 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudut Perpustakaan

Wishlist Buku Favoritku

Resep Segelas Caramel Macchiato