Menulis Saat Hujan, Segelas Kopi di Ranu

Kali ini, aku menulis di tempat favoritku, di tempat duduk yang sama. Memesan menu dan kopi yang sama. Playlist lagu tempat ini, cocok ditelingaku. Yah, aku sudah nyaman dengan tempat ini. Sudut ini dari segala sisi. Hingga membuatku kembali lagi dan lagi. Belajar di sini, nulis di sini. Tapi, nggak boleh sesering itu, boleh sesekali.

Aku bingung...
Aku bukan bingung mau nulis apa. Karena banyak yang ingin aku tulis hingga aku bingung, tulisan mana dulu, bagain mana dulu yang menjadi pembuka buku yang ingin aku buat.
Semua kejadian, semua pesan yang ingin aku sampaikan di buku yang ingin aku buat, seolah mengetuk pintuku secara serempak. Jadi, aku bingung, mana dulu ni yang aku tuliskan. Sehingga, sepertinya sementara ini, aku menulis mereka menjadi beberapa bagian. Yang penting otakku ini nggak rame. Dan aku menuliskannya, struktur bahasa atau entah bagimana bagus atau tidaknya, masalah itu bisa diperbaiki. Berarti, aku harus mengumpulkan semua jadi satu, aku buat strukturnya per bab, aku revisi.
Dari awal, aku tidak ingin membuat buku asal, buku yang kosong hanya menceritakan hal yang biasa-biasa saja, hal romantis tanpa makna, atau tidak memiliki sesuatu yang dalam mungkin. Tentunya, karena aku mengingat akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak terkait apa yang aku tulis.

****

Setiap orang, memiliki alasan tersendiri, titik tersendiri hingga akhirnya mematik kayak "ini saaatnya".
Aku sudah lama menginginkan membuat buku. Tapi aku bingung, bingungnya adalah ceritanya seputar mengikhlaskan dan ya gitu-itu aja. Saat itu, aku belum merasakan berbagai varian rasa/spektrum rasa dan saat itu juga aku belum mengenal diriku. Aku menomor duakan diriku. Aku kehilangan diriku. Aku mempertanyakan diriku lagi dan lagi. Aku merasa kecil. Merasa "kali ini, apa ya salahku?". Mungkin, bagian ini, aku ceritakan di bab tersendiri, karena sangat panjang. Sangat panjang jika sekedar satu dua bab. Tapi aku rasa, bagian ini tetap aku tulis apa adanya, karena diluar sana mungkin banyak sepertiku, merasakan hal serupa. Ketika kita mencintai terlalu dalam, hingga kita lupa untuk mencintai diri sendiri. Ketika kita mencintai seseorang terlalu dalam, hingga tanpa sadar seiring berjalannya waktu kita kehilangan diri sendiri.

*ah, sialnya, playlist yang keputar About You-The 1975.

Sampailah aku di titik ini. Di titik aku bisa menulis ini.
*ah, aku nangis😭 aku mau nangis, tapi udah nangis. Pesanannya pas dateng pula. Malu, tapi udah kebiasa.

Oke balik lagi....

Sampailah aku dititik ini, di titik aku bisa menulis itu semua.
Rasanya, nggak tau. Sedih, bangga, lega, kayak "oh finally..." aku berada di titik ini dan telah melalui semua perasaan dan kejadian itu. Proses panjang dan sakit, sangat sakit. Aku menulis bagian-bagian kejadian itu, artinya aku menembus ruang, waktu, dan perasaanku saat itu. Aku juga butuh waktu dan keberanian untuk membuka kembali buku harianku.

*ah, menyebalkan playlistnya. Kelihatan lagi nangis, sengaja banget ya😭
Apocalypse-Cigarettes After Sex
Oh, when you're all alone
I will reach for you
When you're feeling low
I will be there too

*tolonglah ingusku, mari berkerja sama ya. Aku nggak bawa tisue. Bawanya tisue basah ini.

Kehadiran kamu dalam hidupku,
Terciptalah Hidden Home,
Adanya Hidden Home, membulatkan tekatku kembali untuk menulis buku. Yang dulunya aku bingung nulis apa, alurnya gimana. Ini serasa terarah, aku tahu aku mau nulis apa.
Hanya saja, aku butuh waktu untuk menulis itu, menguras energiku.
Bukannya, aku mengingat orang-orang si masa lalu yang bikin berat. Tapi, aku melihat kebodohanku, aku melihat aku yang tersesat, aku melihat aku yang tidak menghargai diriku, aku yang seperti itu. Untuk aku yang sekarang, aku yang merasa aku sudah terlalu jatuh cinta kepada diriku dan hidupku, itu serasa "ih, beneran aku kayak gitu? bodohnya, gilanya." Nunun pun yang menjadi saksi aku yang dulu, aku bilang ke dia "bodoh bangat sih ya nun aku dulu, goblok banget ya." Dia bilang "lagi nyadar fin?"

*lope you yang buat playlist ini. Labyrinth-Taylor Swift keputer bagian pas aku nulis ini. Kebetulan-kebetulan sederhana seperti ini adalah domapin, hal kecil tapi bikin bahagia.
uh oh. I'm falling in love
oh no, I'm falling in love again
oh, I'm falling in love
I thought the plane was going down
how'd you turn it right around

Oh, bukankah kita perlu tersesat dulu, sehingga dari tersesat, belajar. Kita jadi tahu jalan mana yang kita ambil. Apakah sesuai dengan kebutuhan hidup? Apakah beneran ini yang aku butuhkan?
Dari tersesat itulah,
Dari salah jalan itulah,
Aku jadi tahu diriku. Aku tahu apa yang aku butuhkan.
Aku tahu jika mengambil pilihan ini itu di masa mendatang kiranya apa yang terjadi dan aku rasakan.
Salah jalan itulah seperti memberikan pola secara garis kasar untuk aku di masa mendatang,
Juga, kayak aku jadi tahu "oh, ternyata aku seperti ini.", "oh, ternyata cara seperti ini tidak sesuai denganku atau orang seperti ini tidak sesuai denganku."
Kalau diibaratkan, rasa-rasanya itu kayak semua kejadian itu justru mempersiapkan diriku untuk aku di masa mendatang,
Membuat aku sadar dan belajar,
Membuat aku memfilter mana yang perlu dan tidak perlu aku masukkan dalam hidupku,
Membuat aku, tidak terjun di aku yang seperti dulu,
Membuat aku, berada di titik ini dengan pemikiranku yang sekarang, perasaanku yang sekarang, pola pikirku yang sekarang, bagaimana cara aku memandang diriku sendiri, bagaimana cara aku memandang hidup dan kejadian.

Hal itu di masa lalu, menyakitkan memang.
Hal itu menyebalkan.
Sakit. Siapa yang nggak sakit sih? orang aku pakek perasaan dan saat itu logikaku masih tumpul, alias gobloks. (kegoblokanku, aku akui bukan untuk merendahakan diriku, tapi untuk menertawakan diriku saat itu.)
Jika, ini yang aku dapatkan, dipikir lagi, semua itu sepadan kok.
Jika semua ini yang aku dapatkan, sungguh sangat sepadan.

*hujan, kopi, playlist lagu. Nikmatnya Ya Allah... Sederhana, tapi aku melting.

Jika semua yang terjadi,
Aku membuatku mendapatkan kembali diriku, pemikiranku, semua yang ada pada diriku. Sungguh sangat sepadan. Sungguh Fina...

*ya Allah, Ranu nih, yang bisa bikin aku selalu kembali di sini lagi dan lagi adalah playlistnya. Aku banget ini😭 Keshi..... Aaaaa..... Limbo. Mesti habis ini yang keputer Keshi.

Fina, aku bangga sama kamu. Serius. Yah, kamu kayak apa ya?
Kayak buku usang. Buku lama, berdebu, tidak tersentuh, tidak menarik, tidak terlihat, buku yang sekali cetak, tidak ada salinannya. Hanya orang tertentu yang menemukanmu. Nggak semua orang bisa membaca kamu. Dan orang harus membaca seluruh buku untuk tahu kamu.
Tetaplah menjadi buku usang itu. Tetaplah tidak terlihat. Tetaplah menjadi fina yang nggak famous. Tetaplah dibalik layar. Aku suka... Aku suka...
Kenapa nggak ingin terlihat? di jaman sekarang banyak orang yang ingin terlihat dan dikenal.
Kenapa nggak ingin menjadi terlihat yang luar biasa? dibanggakan, terlihat seolah semua orang iri melihatku. Kenapa?
Hei... Ini aku...
Aku sudah luar biasa tanpa mereka memandangku luar biasa.
Aku sudah melihat diriku, sebelum semua orang melihatku.
Aku sudah berharga, tanpa ungkapan dari orang bahwa aku berharga.
Jadi... buat apa?
Itu yang pertama...
Kedua... Ketika aku terlihat seperti buku usang, tak menarik, tak tersentuh (bukan lantas tampil nggak menarik gitu, ya biasa saja. Menarik untuk diri sendiri).
Aku menemukan bagian menariknya. Dari situlah, aku menemukan kebetuan-kebetulan, bukan kebetulan juga sih karena semua itu kuasa Tuhan. Seperti alur cerita yang tidak dibuat-buat, mengalir natural. Aku membiarkan Allah menciptakan alur yang nggak bisa aku sebagai manusia ini menduga bisa memiliki alur seperti itu dan ketika terjadi atau aku sedang mengingat kembali "Ini kuasa Allah sih... Ini kehendak Allah. Ya Allah, seindah ini alur cerita dari-Mu." hingga aku hanya bisa terharu, bersyukur, menangis dan malu kepada-Nya. Paham nggak sih?
Gimana ya jelasinnya ya?
Duh, bagiku perihal spiritual itu, tingkatan susah di jelaskan. Masih mending emosi atau perasaan, masih bisa dijelaskan, digambarkan atau dianalogikakan. Gimana ya?

Kayak gini deh,
Banyak, kejadian-kejadian dalam hidupku, yang kalau dipikirkan lagi, sepertinya aku ngga bisa mendapatkan ini hanya dari usaha dan kemampuanku. Karena saat itu, aku menyadari bahwa aku belum seberusaha itu, aku minim usaha, kadang hanya iseng (diawal merasa nggak mampu, kayaknya nggak mungkin deh). Tapi, hai... aku melupakan bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.
Allah menciptakan dengan sengaja, apa yang ada di langit, bumi dan segala yang ada diantara keduanya. Itu hal besar dan tidak mungkin bagiku, tapi itu hal kecil, sangat-sangat kecil, sekecil partikel yang ada di bumi bagi Allah.
Aku mendapatkan itu, Allah menempatkan aku di situ. Allah memberikan aku amanah itu.
Dan ingatlah, ketika aku mendapatkan itu, ketika aku diberi amanah itu, jagalah fina... selesaikan dengan baik, jaga dengan penjagaan terbaik. Apapun yang terjadi, termasuk suatu masalah ditengah jalan adalah amanah (bukankah suatu ujian itu termasuk amanah? amanah untuk mampu menyelesaikan itu dengan baik, dengan cara yang Allah ridhoi). Seperti skripsi selama 2 tahun penuh liku itu (kayaknya 2 tahun lebih sih). Kayak gitu...
Bukankah itu menarik?

Bagiku, manusia itu seperti air...
Dan pola pikir adalah wadah, otak adalah wadah. Perasaan sebagai warna dari air itu.
Jika aku memberikan diriku air comberan, jadi bau, gelap, tak menarik, tidak bermanfaat.
Lalu, bagaimana jika aku kasih air sumberan atau air zam-zam, air bersih?
Seperti itulah manusia... Air yang aku kasih pada diriku itulah ilmu, hal yang aku lihat, kebiasaan, gaya hidup, makanan yang aku konsumsi, suara yang aku dengar, ucapanku, tindakanku, semuanya.
Apa yang aku beri ke lingkungan, akan kembali pada diriku.
Apa yang aku beri pada diriku, akan kembali pada diriku.

*Seasons-Wave to Earth

Aku menganggap bahwa, sebuah masalah atau ujian itu amanah.
Seperti aku diberi soal oleh Allah,
Seperti aku diberi study kasus oleh Allah,
Lalu seolah aku seperti mengukur diriku sendiri, gimana ya fina menyelesaikannya kali ini? apakah aku bisa sabar? oh kemarin, sempat terjadi kayak gini hal yang terjadi adalah pertama aku bersikap spontan, lalu terjadi ini dan itu, yang aku rasakan step by step nya seperti ini itu. Polanya jadi gini...
Kayak jadinya semacam bahan evaluasi...
*ketika aku nulis ini, aku baru sadar. Kok bisa ya? kok bisa aku berpikir gitu? dari mana munculnya, asal usulnya? apa efek aku anak akademis, ilmiah penelitian gitu? apa gabungan dari aku suka baca sekaligus aku jurusan penelitian? aku penasaran, sungguh. Maksudku, dari mana asal usulnya, kok bisa? jika aku tahu gimana caranya seperti ini, akan aku tulis step by stepnya, caranya, kali aja bermanfaat untuk orang lain. Bagaimana bisa aku mendapatkan semua ini? akumulasi dari semua hal yang terjadi?
Kalau dari buku? aku baca buku hanya karena suka aja. Toh habis baca juga aku lupa. Aku bukan pengingat yang handal. Motivasi-motivasi atau semua tulisan yang ada di buku hanya memberikan ide, prespektif, nggak yang dari situ langsung merubahku gitu.

Gimana? fina tertarik untuk menguliknya?
Mengingat lagi, kumpulan apa yang terjadi dalam diriku.
Tapi nanti tulisannya jadi campur sari. Ini aja tadi mau bahas apa, malah sampai spiritual, sampek mana-mana. Inilah kelemahanku menulis. Locat-locat...
Tolong Fina, bahaslah satu topik secara utuh. Ini kamu tanpa ngerem ngetiknya, tanpa mikir.
Sejak kapan Fina nulis pakek mikir?
Cuma pas skripsian aja wkwkwk...
Kayaknya, aku bisa serius nulis... Tapi jadinya tulisan karya ilmiah.

Okay, coba aku cari tahu di halaman lain.
Ini udah terlalu banyak topik yang tercampur.
Soalnya, jika aku cari tahu ini, dan tahu resepnya. Aku bisa mengembangkan resep ini.
Tapi sebenernya, aku butuh diuji dulu... Ya Allah, maksud aku, aku bukan menantang ujian, cuma aku sedang butuh evaluasi. Nggak mungkin fina sengaja cari masalah.
Aku sedang menunggu amanah darimu....
Untuk saat ini, karena amanah ujian itu belum datang, fina persiapkan secara maksimal.
Fina belajar dulu ya, Ya Allah... Ketika itu terjadi, aku sadar dan insyaallah aku siap.
Yah, fina sedang menanti amanah dari-Mu.
Sebuah kehormatan bagiku untuk mendapatkan amanah itu, meski nantinya pas datang sambil nangis.
Aku percaya pada-Mu.
Aku percaya pada diriku, aku percaya bahwa aku mampu. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudut Perpustakaan

Wishlist Buku Favoritku

Resep Segelas Caramel Macchiato