Kalimat Viral dari Filsuf Gadungan
Ada kata-kata yang sempat viral:
"Cinta habis diorang lama, sisanya hanya melanjutkan hidup."
Apakah benar seperti itu?
Aku pribadi tentu saja tidak setuju dengan kalimat viral yang entah dari mana datangnya ini. Para filsuf tidak mengajarkan demikian, pada buddhis pun juga tidak mengajarkan ini, apalagi islam.
Kalimat itu rasanya tidak adil,
Bagaimana kita tidak bisa lagi mencintai seseorang, hanya karena kita pernah merasakan kebahagian dengan seseorang dari masa lalu?
Kenapa pakai kata "hanya"?
Iya, coba saja. Kita anggap, paling lama em suka dari SD, anggap saja sampai lulus kuliah. 13 tahun anggap saja selama itu. Masih sekedar pacaran, ngasih perhatian, tercipta kenangan. Lalu, tidak sejalan.
Apakah lantas mereka tidak mencintai lagi pasangan masa depan mereka, yang akan membersamai mereka seumur hidup, memperjuangkan, menguasahakan. Anggap saja nikahnya usia 25, meninggalnya 60, berarti 35 tahun hidup bersama. Hai, come on, untuk hidup yang singkat ini, sekali seumur hidup ini, kita merelakan 35 tahun kebersamaan tanpa makna, hanya karena 13 tahun itu?
Waw, si pasangan masa depan ini berhak lo mendapatkan cinta yang ugal-ugalan. Pantas loh mendapatkan cinta yang utuh. Kita bisa loh, mencintai lagi dan lagi berulang kali dan yang terakhir mencintai berulang kali dengan orang yang sama.
Siapa itu yang membuat argumen yang tidak memiliki kedalaman hidup itu?
Oke, kita menghargai adanya masa lalu dan orang-orang dari masa lalu. Tapi bukan berarti kita stuck di orang yang sama. Hidup itu bergerak, bumi bergerak, jaman pun bergerak, kalau kita stuck, kita akan tergerus waktu.
Hiduplah dengan luwes.
Jangan jadi Tegar dalam novel Sunset Bersama Rosie, kasihan mbak Sekar.
Aku tidak setuju dengan kalimat itu.
Aku akan terus jatuh cinta seperti masa remaja, dengan berbagai spektrum rasa, apalagi bersama suami, akan jatuh cinta berulang kali dengan berbagai cara, warna dan rasa.
Begitulah hidup... Hidup terus berjalan... Untuk kehidupan yang singkat ini, sekali seumur hidup ini, siapa yang tidak ingin menjadi manusia yang utuh? hingga diakhir cerita, kita bisa kembali mengenang masa-masa itu, karena penuh makna dan kedalaman, ketika pasangan tiada, rasanya tidak ingin menikah lagi, hingga kita dipertemukan dengannya lagi di kehidupan berikutnya.
Indah bukan?
Wah, aku jadi teringat novel Sendiri karya Tere Liye.
Juga teringat novel Hello karya Tere Liye.
Sekaligus keingat novel 70 mil 😭 yang bikin mataku bengkak seharian itu.
Ingat juga Sunset Bersama Rosie karya Tere Liye, novel yang paling aku benci.
Komentar
Posting Komentar