Ramuan Instan Melupakan
Kisah cinta Rin ke Altan, yang mana si Rin masih obses dengan Altan meskipun Altan sudah meninggal. Aku selalu gemas, setiap kali adegan bayangan Altan muncul lagi. Sampai seris ke 2, jatuhnya si Rin ini bukan cinta tapi obses.
Hai Rin... Kamu mau mendengarkan ceritaku?
Bagian tersulit dari jatuh cinta adalah mengikhlaskan.
Sebelum mencintai, kita terlebih dahulu belajar mengikhlaskan.
Bahkan ketika sudah menikah sekalipun.
Kok gitu?
Iya...
Apakah manusia itu abadi? tentu tidak.
Ini adalah fakta, fakta bahwa manusia hanya sementara di bumi.
Fakta bahwa orang yang kita cintai sejatinya bukan milik kita,
Tapi milik siapa? benar, Tuhannya.
Sangat sulit, benar-benar sangat sulit,
Bagaimana bisa, kita mengikhlaskan sesuatu yang mana bahkan belum pernah menjadi milik kita?
Bagaimana bisa, kita mengikhlaskan sesuatu yang mana telah menjadi pasangan hidup kita?
Bagaimana bisa, kita bisa hidup tanpa ada pasangan di dunia ini? yang mana kita sudah terbiasa hari-hari bersamanya, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi.
Tapi, begitulah... Kenyataan bahwa seseorang yang kita cintai hanyalah titipan.
Kenyataan bahwa, yang sudah menikahpun itu juga titipan.
Mau bagaimana lagi? suka nggak suka, tapi kenyataannya seperti itu.
Maka, kita perlu belajar mengikhlaskan sebelum mencintai,
Atau ketika mencintai, jangan lupa juga belajar untuk mengikhlaskan meski sudah dimiliki.
Banyak ketidak pastian di dunia ini.
Adanya hal itu, agar kita belajar menghargai keberadaan seseorang yang ada di kehidupan kita.
Keberadaan mereka hanya sementara.
Orang, seringkali mengira mengikhlaskan sama dengan melupakan.
Aku mengalami berusaha melupakan selama 3 tahun.
Segila apa aku, segila apa aku saat itu?
Bagaimana bisa aku memaksa diriku melupakan seseorang yang setiap hari aku lihat?
Setiap hari aku mendengarkan suaranya.
Dia yang jahil, dia teman berantem sekaligus teman dekat.
Bagaimana bisa aku melupakan, jika sejak awal aku tahu dia juga merasakan hal yang sama, dia yang diam-diam menulis kalimat di buku pelajaranku.
Bagaimana aku berusaha menahan air mata, ketika dia bercerita tentang pacarnya.
Bagaimana aku tidak gila, ketika orang itu menerorku berkali-kali untuk menjauhi dia.
Aku memaksa diriku untuk melupakan dia, dengan cara dekat dengan orang lain. Setidaknya, aku berharap teror itu berhenti. Aku lelah.
Saat itu, aku juga ingin menghapus perasaan itu, tapi gimana caranya?
Nggak di ajarin di sekolah. Nggak di ajarin sama orangtua. Nggak ada yang ngasih tahu caranya gimana. Apa yang harus aku lakukan?
Ternyata, dekat dengan orang lain, tidak membuat perasaan itu hilang.
Ternyata, perasaan itu justru semakin tumbuh besar.
Tapi, dari awal ini keputusanku,
Pun ketika mereka putus, aku juga memilih pilihan yang sama.
Karena aku lelah, aku pasrah.
Karena aku sudah lelah mencoba melupakan, akhirnya aku mengakui keberadaan perasaanku saat itu.
"Iya, aku suka dia. Perasaan ini memang masih ada. Aku akui itu. Perasaan itu ada, bukan berarti aku harus sama dia. Kenyataannya adalah bahwa aku nggak bisa sama dia."
Ketika ada teman bertanya, aku mengakui "iya, aku masih suka."
Ketika dia bertanya "iya, aku masih suka kamu."
Ternyata, begini ya, ketika aku menerima perasaanku sendiri.
Ternyata begini ya, ketika aku bisa mengakui perasaanku sendiri.
Seiring berjalannya waktu, rasa sayangku ke dia berbeda bentuknya, tidak seperti dulu lagi. Aku mulai terbiasa ketika mendengarkan dia bercerita.
Ternyata, dengan cara menerima, aku bisa mengikhlaskan.
Tapi, bukan berarti perasaan itu langsung pudar, karena setiap hari aku melihat dia, aku mengaguminya, aku sebagai teman dekat dia.
Aku butuh 4 tahun lagi untuk benar-benar bersih.
Pada akhirnya, dia menemukan pasangan hidupnya,
Aku bertemu istrinya, ketika aku sudah tidak ada rasa apapun lagi.
Aku menangis cuma sekali saja.
Aku menangis dengan perasaan terharu, turut senang sekaligus bangga (sama diri sendiri).
Aku mengingat kisah itu, bukan orangnya, bukan dianya.
Tapi justru aku.
Kayak "gila, keren banget kamu pin, bisa melalui semua itu."
Perasaan yang datang adalah perasaan menghargai diri sendiri, karena sudah bisa melalui masa-masa itu dengan begitu hebatnya. Justru aku malah bersyukur, saat itu aku tidak bersamanya, hubungan aku dan dia tidak aku jadikan hubungan romantis.
Ketika bisa menerima, semua jauh lebih mudah.
Ketika menerima, pikiran dan hatiku tidak lagi berisik.
Dari situlah, jatuh bangunku belajar mengikhlaskan.
Aku berharap kepada diriku sendiri, kedepannya lebih mudah,
Dan aku meminta kepada Allah, untuk mengirim kisi-kisinya jika aku revisian kembali.
Memang sulit, tapi rasanya lebih mudah dibanding yang lalu.
"hem... perjalanan yang panjang ya fin."
Karena perjalanan begitu terjal dan panjang, justru semakin bangga kepada diri sendiri sudah bisa melalui masa itu dengan banyak uji coba.
Jadi, nggak ada yang namanya instan, butuh waktu, butuh proses untuk mencerna, butuh kesabaran jika teringat kembali, juga butuh kesadaran. Sadar bahwa ini pilihanku.
Tidak semua keinginan, lantas terpenuhi.
Tidak semua harapan, akan terwujud.
Keberadaan perasaan itu ada, lantas bukan berati harus dimiliki.
Memang siapa kita, bahkan tubuh yang kita akui milik kita sejatinya bukan tubuh kita.
Ada cerita yang lebih menarik dari semua ini.
Bagaimana aku bisa menghargai orang sekarang, ketika dulu aku tidak mengalami masa itu?
Aku belajar mencintai sekaligus mengikhlaskan di orang yang sama.
Itu justru membuat beragam rasa aku rasakan di satu orang.
Membuat aku mengakui "ya, aku sayang dia, aku mencintainya, aku juga takut kehilangan dia, aku khawatir dia pergi, aku cemas jika dia berubah derastis, aku bersyukur dia ada di dunia ini, aku terharu betapa beruntungnya aku mengenalnya, aku sedih ketika terlalu jauh lama nggak ada kabar, aku kangen sampai rasanya aku kesal."
Berbagai rasa itu ada dalam satu orang dan aku menerima semua perasaan yang datang padaku.
Itu yang membuat tulisanku jauh lebih hidup ketika menulis tentangnya.
*aku terharuš
Itulah, saat itu aku dibuat patah untuk tumbuh lagi.
Aku melepaskan orang itu, agar aku memiliki ruang bagi orang sekarang.
Oh, tidak semulus itu tentunya, awalnya juga ada drama.
Ruangan itu, awalnya aku bangun tembok, aku terlalu takut.
Tapi orang saat ini dan buku-buku yang kebetulan aku baca, secara serempak merobohkan tembok itu.
Jadilah aku yang sekarang...
Tentu, aku belum mengijinkan semua tulisan ini aku berikan kepadanya.
Karena, rasanya aneh, terlalu positive vibes, maksudnya tu ini bukan fiksi.
Nanti kalau dia nggak percaya?
Tapi, emang orang lain merasakan perasaannya kayak gimana?
Aku normal atau abnormal?
Emang, orang umumnya kalau suka orang harus disukai balik, kalau nggak disukai balik cari yang lain?
Apa semudah itu ya move on?
Gimana caranya orang ganti berkali-kali, aku yang satu orang aja setengah mati.
Orang tidak tahan dengan rasa sakit, karena orang hanya mengenal rasa secara garus besarnya saja.
Mungkin, yang dirasakan sebenernya itu bukan rasa sakit, rasa sakit itu dampaknya saja.
Sakit itu, dapat dirasakan melalui fisik, entah itu di hati, dada, kepala, perut, lambung, manapun, sedangakn ada berbagai rasa yang datang sebelum rasa sakit itu ada.
Komentar
Posting Komentar