3 Aspek Sederhana yang Ingin Ada di Negara

Jika saja, aku bisa mengatur tatanan sebuah negara.
Setiap kampus, aku masukkan mata kuliah wajib parenting dan pra nikah.
Hp hanya bisa diakses dan memiliki di usia 17 tahun, tidak bisa di manipulasi, karena sistem dalam hp dapat mendeteksi itu.
Buku mudah di dapatkan, bukan hanya di kota-kota besar, namun di desa akses buku mudah didapatkan dan rutin mendapatkan pembaruan buku (bukan terbitan lama). Tentu saja, buku ini bukan hanya terbitan milik pemerintah. Menghormati dan menghargai penulis dan percetakan dalam negeri (tentunya ada buku luar juga).
Memang terlihat lambat. Seperti aku menananm benih, dan buahnya baru tumbuh 10 tahun mendatang.
Parenting dan pra nikah, harusnya menjadi sebuah dasar bagi manusia sebelum membangun sebuah keluarga. Aku memikirkan keberlanjutan generasi mereka, karakter anak, pertumbuhan psikologi generasi mendatang. Keluarga sebagai, lingkungan terkecil, lingkungan pertama, ruang aman, pembentukan kebiasaan, sifat, karakter, pola pikir, yang mana akan melekat pada diri si anak higga anak ini menjadi orangtua.

Aku rasa, ketika belajar. Mengetahui dampak dari suatu perbuatan, maka kita akan lebih berhati-hati dan bertindak secara sadar. Hanya saja, gemar belajar ini, terasa asing ditelingaku dalam negeri ini. Belajar bukanlah kebiasaan atau keinginan yang muncul dalam diri, seolah belajar itu seperti kegiatan membaca. Sekolah seolah tempat bertempur dan kegiatan belajar hanya ruang lingkup di sekolah saja, hanya belajar pelajaran sekolah saja. Selesai sekolah, selesai sudah kegiatan belajar itu.
Apa mungkin, dari awal rasa keingin tahuan masyarakat rendah?
Apa mungkin kehidupan auto pilot yang masyarakat terapkan?

Perubahan bisa serempak dan lebih luas lagi efeknya, jika pemerintah  berperan dalam sebuah perubahan. Bukan hanya menyuguhi sesuatu yang instan, uang atau hal yang hilang hanya sekejap. Bukankah Nabi kita mengajarkan ini, seingatku ada suatu cerita ketika ada orang meminta diberi atau dipinjamkan modal untuk usaha/bekerja. Itu cara yang luar biasa dan cemerlang (ya meskipun itu sesuatu yang terlihat kecil). Dampaknya, bagi orang itu berkelanjutan dan adanya sebuah usaha, tidak sesuatu yang instan lantas hilang.
Program-program pemerintah sekarang, seolah memaksa hingga hal yang utama dikorbankan. Seperti sedang dipimpin oleh toddler tantrum. Aku jadi teringat, pernah membaca:
"dan demikianlah pada setiap negeri Kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu. Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya."

Dari semua ini, yang bisa dikontrol hanyalah diri sendiri, maka perubahan terkecil dimulai dari diri sendiri. Rasanya, aku ingin memiliki kurikulum tersendiri ketika memiliki anak.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudut Perpustakaan

Wishlist Buku Favoritku

Resep Segelas Caramel Macchiato