Hai Aku Masa Depan, Aku Menyapamu
Surat Cinta untuk Mertuaku
Kepada ibu mertuaku,
Salam sejahtera dan sehat selalu di manapun engkau berada.
Aku nggak bisa menuliskan puisi yang indah untumu,
Tapi, ijinkan kalimat sederhana ini,
Mewakiliku untuk mengungkapkan perasaan dalam hatiku ini.
Perjumpaan pertama kita,
Mungkin aku akan gugup, grogi, deg-degan, khawatir, senang.
Berbagai gejolak terasa, hingga bingung bagaimana mendefinisikannya.
Jauh sebelum perjumpaan kita,
Jujur saja, banyak kekhawatiranku,
Hingga, aku mempersiapkan diri dari berbagai kemungkinan kondisi kita nanti.
Bukannya aku berperasangka buruk padamu,
Hanya saja, kita hidup di jaman yang berbeda, perjalanan hidup yang berbeda, budaya dan kebiasaan keluarga yang berbeda, memungkinkan adanya perbedaan dari bagaimana kita menjalani hidup, prinsip ataupun sudut pandang.
Tapi, adanya perbedaan itu, bukan berarti kita tidak bisa hidup bersisihan, meski sesekali terjadi perselisihan.
Aku pun dengan ibuku, membutuhkan bertahun-tahun adaptasi serta bonding.
Ketika perbedaan atau konflik itu terjadi,
Aku mengharapkan diriku untuk memahamimu,
Aku mengharapkan diriku untuk tidak ada kebencian dalam hati walau setetes,
Aku justru mengharapkan hatiku tumbuh cinta dan kasih untukmu.
Aku ingin, bagaimana hati dan perbuatanku merespon ketika kondisi itu sesuai kendaliku, tanpa melukaimu.
Semoga, perjumpaanku denganmu,
Diriku sudah dalam kondisi, apa yang aku harapkan pada diriku sendiri tadi.
Kepada ibu mertuaku kelak,
Ijinkan aku memperkenalkan diri.
Aku bukanlah perempuan sempurna,
Aku bukan perempuan cantik dengan berbagai busana yang menarik,
Aku bukan perempuan pintar always number one di kelas, pondok ataupun bangku perkuliahan,
Aku bukan perempuan yang ukhtiable masyaallah tabarakallah,
Aku bukan juga dari golongan keluarga kaya yang terpandang,
Aku jauh dari kata menantu idaman.
Karena, aku sadar bahwa di dunia ini, akan selalu ada jauh lebih baik daripada diriku.
Aku lahir dari keluarga yang sederhana,
Keluarga yang menerima segala kondisiku,
Keluarga yang memberikan kasih sayang padaku,
Keluarga yang membuatku ingin, takdir membawaku kembali bersama mereka, lagi dan lagi.
Dari keluargaku, aku bisa belajar dari bagaimana cara mereka memberikan kasih, menerima, berbagi, proses hidup, rasa cukup, serta kesederhanaan hidup.
Karena itu, aku ingin merepresentasikan bagaimana keluargaku memperlakukanku, kepada orang sekitarku. *tapi, bukan berarti keluargaku sempurna tanpa celah, seperti orang pada umumnya.
Tentu saja,
Aku menyadari, masih banyak kekurangan pada diriku,
Namun, jika aku diberi kesempatan untuk belajar dan tumbuh,
Insyaallah aku mampu memperbaiki diriku.
Maka dari itu, aku membutuhkan dirimu yang sudah melalui fase ini untuk membimbingku,
Membimbing bagaimana menjadi manusia,
Membimbing bagaimana menjadi istri dan sosok ibu,
Aku belajar bagaimana menjadi sosok perempuan tangguh dan hebat sepertimu.
Mohon kerja samanya ya bu, aku perlu belajar banyak darimu.
Sungguh, sebuah kehormatan bagiku ditakdirkan menjadi menantumu,
Itu artinya Allah menginginkan aku belajar kepadamu,
Dan engkau menjadi guru sekaligus ibu untukku.
Oh, tak terlupakan,
Tentunya, aku akan menanyakan ini itu, terutama resep masakanmu.
Aku tahu tidak ada yang sempurna dalam hidup,
Tapi terima kasih bu, telah menjadi perempuan tangguh dan menjadi inspirasiku untuk setangguh dirimu.
Terima kasih, sudah menjadi sosok ibu yang melahirkan dan membesarkan anakmu,
Terima kasih, sudah menerima dan percaya padaku untuk mendampingi anakmu,
Terima kasih, atas resep rahasiamu yang rela engkau bagikan padaku.
Aku tahu, pastinya ibu mengharapkan menantu yang jauh lebih baik daripada aku,
Tapi sungguh terima kasih ibu telah menerimaku diantara semua perempuan yang ada di muka bumi.
Aku tidak ingin mengecewakanmu.
Aku ingin menjadi putrimu, sebagaimana ibuku ke aku, yang memarahiku karena tidak cekatan, yang banyak mengingatkan ini itu karena khawatir, menegurku ketika salah. *jujur bu, aku kadang merindukan omelan ibuku.
Terima kasih untuk ibu mertuaku,
Terima kasih untuk besan ibuku satu-satunya.
Salam sayang dariku, yang entah ditahun ke berapa kita bertemu.
*aku nggak tahu, akan memberikan ini padamu atau tidak. Tapi, aku akan kembali lagi dan lagi pada tulisan ini ketika aku sudah dengan suami. Lucu sekali rasanya, ketika di masa depan aku membaca lagi, dan aku ingin tahu di masa depan apa yang kamu rasakan Fina. Tulisan ini, aku mengirimkan energi diriku sekarang untuk aku di masa depan.
Komentar
Posting Komentar