Alur Buku Fiksi Sampai Buku Relasi Hubungan
Pertama kali bacaan bukuku itu buku fiksi.
Aku baca karena aku suka. Aku baca karena ya aku menikmati buku tersebut. Saat itu, aku nggak tahu dampaknya, aku nggak tahu manfaatnya, nggak ada yang maksa atau menyuruhku untuk baca.
Apakah karena kebiasaan orangtuaku yang suka baca?
Tidak. Ibu tidak gemar membaca. Ibu lebih suka belajar melalui audio. Aku tidak melihat ibuku membaca atau beliau juga tidak menjadi teladan dalam kebiasaan membaca.
Hanya saja, sejak kecil. Ibuku suka beli buku untukku. Hanya beli dan diberikan padaku.
Aku masih bingung, bagaimana bisa orangtuaku yang tidak suka baca, tetapi memiliki anak jadilah aku yang sangat suka baca. Aku nggak pernah lihat ibu atau bapak membaca.
Karena aku suka baca, buku paket sebelum waktunya diajar oleh gurupun sudah aku habiskan. Bahkan aku mencari disela-sela soal di buku mencari cerpen atau puisi.
Dari sinilah. Aku bisa menarik benang merah bahwa, jika sejak kecil si anak sudah ditanamkan bahwa baca buku itu hal yang menyenangkan, tanpa paksaan, memberikan buku yang menarik. Maka, ketika si anak tumbuh besar, membaca itu menjadi hal yang kecil bagi mereka.
Banyak orang, sangat banyak bahkan. Mengatakan "Ngapain baca novel. Baca itu ya buku pelajaran."
Ketika aku mendengar itu, bahkan ada yang kalimat itu tidak ditujukan kepadaku. Aku diam. Aku diam karena ini susah untuk dijelaskan. Semua ini hanya dirasakan oleh orang yang suka membaca.
Kalimat itu, seolah menjadikan membaca itu bukan kebiasaan. Membaca itu menjadi tuntutan dan kewajiban. Sangat disayangkan, padahal membaca itu menyenangkan.
Membaca novel, membuatku seolah aku masuk di dalam novel itu. Bahkan terkadang seolah aku menjadi tokoh utamanya. Berjumpa dengan berbagai tokoh dalam novel, dengan berbagai karakter, pilihan hidup, permasalahan yang mereka hadapi.
Muncuk empati. Ini sih... nggak tahu kenapa, membaca novel membuat kita lebih menghargai orang lain. Dugaanku adalah ketika aku mengenal tokoh yang ada di novel, tokoh itu memiliki berbagai permasalahan yang kompleks, yang mana permasalahan itu mereka simpan sendiri dan menjadi rahasia antara pembaca dan tokoh itu. Dan ketika aku membaca ada perasaan atau kejadian familiar dalam hidupku.
"Iya, ini yang aku rasakan... aku pernah merasakan ini."
"Aku mengerti, kenapa seberat itu. Yah, kalau aku di posisi itu, aku juga bakal bingung."
"Kayaknya nggak asing. Serupa tapi tak sama. Aku pernah melaluinya."
Mungkin dari situ, membuat kita kayak tidak mudah menilai seseorang hanya dari satu dua kejadian, membuat kita mengerti bahwa tiap penilaian orang atas orang lain tidaklah sama, membuat kita lebih menghargai dan mencoba mengerti atas kehidupan orang lain, membuat kita memahami bahwa setiap orang itu berbeda. Membuat kita, tidak memaksakan kehendak, pilihan atau pemikiran orang lain harus sama dengan kita.
Memunculkan sisi kemanusiaan tanpa mengalaminya secara langsung.
Itu mungkin yang membuat orang yang suka baca, dia kayak kaya akan kehidupan.
*ini, aku menganggap, aku adalah orang lain. Aku adalah orang yang sedang diriku amati. Jadi, aku bukan sedang membanggakan diriku. Aku yang nulis ini sebagai orang ke 3.
Salah besar bahwa baca novel itu hanya buang-buang waktu, tidak berguna. Soalnya, itu hal yang tidak terasa atau terlihat langsung dampaknya. Sungguh. Karena, terasa pelan, dalam, tidak terlihat dan nggak bisa dijelaskan.
Aku malah nggak fokus ke dampak "banyak membaca membuat kaya kosa kata. Menemukan kosa kata baru."
"Membaca membuat pikiran semakin tajam."
"Membaca membuat wawasan semakin luas."
"Membaca melatih otak berpikir secara terstruktur."
Tidak-tidak. Membaca itu, dampaknya tidak sesederhana itu. Dan ketika kita membaca untuk mendapatkan timbal balik, kegiatan membaca itu menjadi tuntutan, seperti membaca buku pelajaran. Terasa berat dan terpaksa.
Seperti halnya ibadah dan berdo'a. Ketika kita jadikan sebagai transaksional antara Tuhan dengan hamba, yang terjadi adalah keterpaksaan, tuntutan dan berharap timbal balik.
"Aku udah sholat, kok gini... kok gitu..."
"Aku udah berdo'a berkali-kali, dzikir ini itu ratusan kali, kenapa nggak terkabul? Kenapa masih gini-gini aja? Kenapa? Kok gini gitu?"
Bagaimana dengan orang yang biasa saja, tidak berlebihan dan melakukan itu tanpa adanya rasa timbal balik.
Nah... seperti itu...
Justru terkadang, jika membaca dilakukan dengan terpaksa yang terjadi adalah apa yang ada di buku itu mental (apa ya bahasanya ya?), nggak masuk.
Aku sarankan, tumbuhkan gemar membaca mulai sejak dini. Yakinlah, ketika si anak menjadikan membaca itu hal yang menyenangkan. Dia akan melakukan tanpa kita minta, dia akan menjadikan membaca adalah bagian dari dirinya. Dia akan belajar tanpa kita suruh.
Dan belajar itu, bukan hanya dari akademi. Belajar itu sesuatu yang lebih luas, sesuatu yang nggak harus seperti kebanyakan orang. Menjadi berbeda, tidak masalah.
Soalnya, ketika tumbuh besar, kita tidak bisa memaksa dan lebih susah untuk menanamkan benih kebiasaan pada si anak. Bisa berubah atau tumbuh benih itu, jika itu ada keinginan kuat dalam dirinya.
Ingat, merubah diri sendiri aja susah, apalagi merubah orang lain. Kebiasaan yang ingin kita tanamkan dalam keseharain, untuk diri sendiri, konsisten itu saja sudah susah. Untuk berubah itu hal mudah, konsisten yang susah. Adanya konsisten itu, muncul dari kesadaran diri.
***
Lanjut...
Setelah aku bosan baca fiksi terus. Awal kuliah, aku mulai mencoba baca buku non fiksi. Pertama bacaanku, aku mulai dari self improvement dan self love. Menarik ternyata...
Setelah muncul empati, mulailah belajar mengenal diri sendiri dan belajar untuk mencintai diri sendiri.
Tapi, ada sisi yang nggak baiknya adalah:
Empati itu muncul terlebih dahulu sebelum cinta diri.
Jadi, yang terjadi adalah lebih mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, memikirkan perasaan orang lain daripada diri sendiri, tidak tahu bagaimana cara mencintai diri sendiri sekaligus orang sekitarnya, jatuhnya bisa dikatakan menjadi anak yang people pleaser, tidak mempermasalahkan orang lain memperlakukan hal buruk dan menjadi pemaaaf meski mereka mengulanginya lagi (tidak tahu batasan atau menjadi orang yang nggak enakan). Menjadi anak yang neriman, karena diam dan nurut, dianggap baik. Kalau aku lihat sekarang, sebenarnya saat itu mungkin aku kecil nggak tahu bagaimana cara memperlakukan diri sendiri dan kebutuhan apa yang si anak inginkan, terutama batasan sih, batasan orang lain boleh atau tidak boleh memperlakukan si anak seperti apa.
Apa yang aku alami, jika aku menilai dari sisi pertumbuhan anak, kurang tepat sih. Kebalik.
Cinta diri sendiri ditumbuhkan sejak dini, setelah itu empati. Atau bisa diimbangi keduanya.
Sebenernya empati atau cinta diri, mana dulauan bukan jadi persoalan. Hanya saja, jika tumbuhnya saat remaja, mungkin waktu SMP, waktu yang menurut aku tepat.
Kalau dipikir lagi, jika cinta diri muncul tanpa empati, maka yang terjadi adalah egois atau menjadi orang yang kaku, npd, narsistik dan mungkin masih banyak lagi.
Kalau bisa keduanya seimbang, itu jauh lebih bagus.
Buku-buku self improvement dan self love, beberapa ada yang mengarah ke parenting dan juga trauma keluarga. Saat itu, juga karena aku baru membangun kedekatanku dengan orangtua dan juga lingkungan menemukanku dengan berbagai karakter anak dengan segala permasalahan. Maka, tertariklah aku pada parenting dan trauma keluarga.
Awalnya aku hanya penasaran. Tapi setelah baca, aku merasa ini yang aku butuhkan.
Dan ternyata, ketika aku baca parenting dan trauma keluarga, aku justru menggali diriku lebih dalam lagi.
Ini membuatku sadar bahwa "wah, ternayata belajar mengenal diri itu tidak akan pernah ada habisnya. Apalagi orang itu berubah, tidak stagnan."
Dari sini, aku belajar masa laluku, aku yang sekarang, aku di masa depan dan orang-orang yang akan hadir di masa depan.
Alhamdulillah, ada seseorang yang hadir dalam hidupku, ketika aku berada di fase ini dan aku sudah melalui fase sebelumya. Aku rasa, dia juga sudah melalui hal yang serupa dan sudah terlebih dahulu melalui fase-fase yang ada pada diriku.
Karena kehadiran dia, memunculkan kesadaran untuk aku belajar menjalani sebuah relasi.
Aku tidak ingin dengan sengaja ataupun tanpa sengaja melukai dia atas ketidak tahuanku, atas kebodohanku. Dari sinilah, aku belajar sebuah relasi. Seperti buku Closer to Love karya Vex King, Men are from Mars Women are from Venus, How to Love Better karya Yung Pueblo (my currently reading).
Aku tahu bahwa sebuah konflik, atau perpisahan bisa muncul akibat ketidak tahuan. Kurangnya ilmu menjalin sebuah relasi, kebodohan diri sendiri yang mengakibatkan perpisahan atau konflik itu terjadi. Konflik di sini, lebih ke konflik yang sebenarnya tidak perlu, konflik yang sebenernya hal kecil tapi nggak selesai-selesai atau konflik yang itu-itu saja.
Ya, masak sih, mau hidup hingga tua bersama dengan konflik yang itu-itu saja, muter diseputar itu lagi itu lagi? masak juga mau konflik terus menerus dikehidupan yang sekali di dunia ini?
Adanya konflik itu bagus jika dijadikan pertumbuhan.
Tapi, konflik akan menghancurkan jika dijadikan siapa yang menang, siapa yang kalah atau sebagai perdebatan/permusuhan.
Aku cenderung kurang setuju juga dengan konsep "mengalah dan berkorban."
Jika aku mendapatkan sudut pandang mengenai bagaimana berkorban dan mengalah sebagai bentuk cinta, itu hal baik dan aku suka. Bahwa cara mencintai setiap orang itu berbeda.
Aku hanya tidak ingin, jika itu dilakukan terus menerus, maka akan melelahakan di satu pihak dan pihak lain merasa menerima terlalu banyak (kayak menjadi beban mungkin, atau merasa nggak enak, atau khawatir jika menyulitkan orang).
Bagiku, mengalah dan berkorban itu bukanlah salah satu bentuk kerja sama.
Aku menulis ini, aku membayangkan posisi jika suami berkorban dan mengalah. Aku hanya tidak ingin, peran suami yang bagiku sudah berat ditambah dengan "berkorban dan mengalah". Aku hanya merasa, itu tidak adil. Itu melelahkan di satu pihak. Itu membuat khawatir di pihak lain.
Juga, aku tidak setuju dengan suami kebingungan memihak istri atau ibunya.
Itu bukan sesuatu yang bisa dipilih.
Itu sesuatu yang membuat suami kebingungan, karena dua-duanya penting dengan perannya masing-masing.
Jika, suami orang yang paham porsi dirinya untuk keluarga inti dan keluarga asalnya.
Aku rasa, sebagai perempuan tidak perlu mempermasalahkan itu. Tidak perlu mengkhawatirkan itu.
Itulah kenapa, bagi individu (masing-masing pasangan) belajar sebelum menikah.
Banyak, aku menemukan perempuan mengkhawatirkan ini.
Banyak juga, itu hanya dijadikan ketakutan di kepala, tapi tidak ingin menyelesaikan ketakutan itu dengan cara belajar. Aneh memang. Jadilah konflik, jadilah kekhawatiran yang berlebihan, jadilah masalah yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan.
Ini hanya pemikiranku, karena aku belum melaluinya. Karena aku belum punya suami dan mertua.
*ini hanya pemikiran yang ada di otakku, belum aku praktikkan. Hanya opiniku, belum menjadi sebuah fakta.
Aku tidak meminta suamiku untuk memilih aku atau ibunya. Kenapa?
Itu bukan pilihan dan itu bukan sesuatu yang harus dipilih.
Aku orang yang sebisa mungkin, aku usahakan meminimalisir konflik. Rumusnya: ilmu, empati, kesadaran dan sabar.
Aku menganggap orangtua suamiku adalah orangtuaku (ya emang seperti itu). Meskipun, mertuaku tidak membesarkanku atau melahirkan aku, tapi beliau telah membesarkan dan melahirkan suamiku.
Jika, mertuaku tidak menyukaiku, tidak cocok sama aku, atau memarahiku.
Solusinya bukan suami aku suruh milih mana atau membela yang mana.
Berat juga dong di posisi suami, tidak mungkin memarahi atau malah membentak atau membantah orangtuanya.
Tapi jangan sampai juga membentak, memarahi, menyalahkan si istri, itu akan melukai dia, dunia seakan runtuh jika itu terjadi. Nggak alay sih, cuma kenyataannya seperti itu. Mungkin kalau orang lain yang marahin, ngomong kasar sekalipun, istri nggak perduli, namun jika itu keluar dari suaminya sendiri, aku nggak bisa membayangkan.
Pun, dari sisi ibunya suami. Ibu yang hadir lebih dahulu sebelum aku. Ibu yang membesarkan dan merawat anaknya. Aku yang hadir dalam kehidupan suami setelah semua proses bagaimana suamiku menjadi suamiku yang sekarang (sekarang maksudku di masa mendatang jika aku udah punya suami). Masak aku nyuruh atau mengkompori atau mengapakan ya? membuat? meracuni? membumbu-bumbui? memunculkan? membujuk? suamiku untuk membenci orangtuanya sendiri (sekalipun orangtuanya tidak menyukaiku).
*pas nulis ini, "wah jadi suami, posisinya berat juga ya, jika dapet istri yang egois, yang nggak pengertian."
Bahkan, jika ada pertanyaan receh muncul "Kalau ibumu dan aku tenggelam, mana dulu yang kamu selematin?"
Aku menjawab sendiri:
"Aku datang kepada suamiku bukan meminta dia untuk menyelamatkanku. Dan suamiku bukan penyelamatku. Kita bersama untuk bekerja sama. Kita bersama untuk sama-sama melakukan, untuk sama-sama belajar. Sebelum tenggelam, aku sudah belajar renang, jadi ketika aku dan ibu mertuaku tenggelam, aku dan suamiku berenang bersama untuk menyelamatkannya. Kenapa harus memilih?"
Muncul pertanyaan "lah, kalau nggak bisa renang gimana?"
Aku akan menjawab: "salahku sendiri, kenapa aku nggak belajar? kenapa aku diberi waktu yang bertahun-tahun ini nggak belajar? ngapain aja aku selama ini sampai nggak sempat belajar. Masuk ke dalam sesuatu yang belum aku persiapkan, itu namanya bunuh diri dan sangat beban bagi partnerku."
Jawaban itu luas, hanya orang yang cari masalah yang mempersempit sebuah jawaban.
Jadi, untuk suamiku kelak.
Mari kita kerja sama. Apapun yang terajadi, aku hanya ingin kita sama-sama mencari solusi, bukan dengan kamu mengorbankan dirimu untukku, bukan dengan kamu yang selalu mengalah terhadapku. Aku adalah teman hidupmu. Aku bukan anakmu. Aku adalah teman tumbuh bersama, teman keberlanjutanmu. Bagaimana caranya agar relasi itu berjalan tidak memberatkan kamu, tumbuh, stabil, konsisten dan keberlanjutan. Aku harap, permasalahan eksternal, tidak menggoyahkan hubungan internal kita. Aku ingin berjalan bersama. Aku bisa menyelamatkan diriku. Aku bukan anakmu.
Iya, aku butuh kamu, tapi aku juga sudah memiliki pondasi hidup. Jadi, seperti dua perusahaan yang mengakuisisi, bukan bersaing atau konsolidasi (istilahnya apa ya?). Intinya, kayak kamu datang bukan untuk menghancurkan aku, bukan untuk membangun aku dari 0, bukan untuk menjadi orangtuaku yah sebagaimana peran orangtua. Tapi aku dan kamu sudah sama-sama terbentuk dan kita bekerja sama untuk tujuan yang sama-sama ingin dicapai serta berkelanjutan. Kontraknya, jadi sampai akhir hayat ya....
Sekian dan terima kasih
Komentar
Posting Komentar