Wishlistku Rev 1
*whishlist ini akan terus bertambah, bahkan sudah menikah pun, akan terus bertambah. Karena bosan itu ada, hambar itu ada, tapi salah satu usaha terkecil adalah melakukan hal baru, menambah wishlist atau pengalaman baru. Kita keluar bertemu dengan orang asing, mendengarkan potongan cerita mereka. Aku akan mengusir bosan dan hambar itu dengan berbagai cara. Aku usahakan rumah lebih hidup, bukan dengan mengganti isi di dalamnya, tapi dengan keluar bersama melakukan hal baru.
***
Hai suami aku...
Dari lama ingin menulis ini, tapi kayaknya nggak perlu deh, tapi... Tapi... Kalau aku d masa depan, akan protes karena nggak aku tulis. Jadi, meskipun aneh dan receh, okay lah... Mari aku tulis...
Suamiku, ini bener-bener hal aneh, cuma aku pengen. Hai, hai, bagi orang yang nggak pernah bahkan untuk jalan bersisian sekalipun, nggak pernah makan berdua dengan laki-laki yang aku suka. Jadi, bayangin ya, aku yang saat itu nonton drama, baca novel romantis, bisa sebagai referensi tapi aku menahan untuk tidak melakukan itu. Lihat orang gramedia date sama suaminya dalam hati hanya bisa bersabar. Untuk pertama kalinya, semoga denganmu ya. Semoga saat itu terjadi, aku nggak cosplay jadi cacing kloget-kloget, ingin terbang, lari karena malu, salting brutal.
Okay, jadi jangan di ketawain ya. Hal recah, aneh.
Wishlist aku:
- Gamedia date tentunya. Sampek kakiku pegel. Santai, di Gramed sekarang ada kursinya banyak. Bapak kalau capek cukup duduk manis, lihat tingkah istrinya yang muter sana sini nggak ada capeknya itu.
- Bengong berdua. Hanya sama-sama diam aja, tanpa percakapan, sibuk dengan kepala masing-masing. Pokoknya, bareng berdua tapi cuma diam. Tapi kayaknya, bakal tergoda untuk ngobrol sih.
- Aku mau baca buku, di bawah pohon, ada angin spoi-spoinya. Pohonnya rindang. Ada rumput, tapi kalau nggak ada nggak papa. Yang penting d bawah pohon, terus ada cahaya yang masuk melalui sela-sela pohon itu. Tentunya bersama anda. Bapak kalau suka baca, kuy baca bareng, tapi kalau mau pegang kerjaan, bapak bekerja, aku yang baca.
- Karena bapak sudah menemani hobiku, ganti aku yang mau nemenin, mengamati dan mencoba hobimu. Seaneh apapun hobimu atau meski awalnya aku nggak bisa, aku coba. Kali aja, hobimu jadi hobi keduaku.
- Masak resep baru berdua, yah meskipun pada akhirnya nggak karuan rasanya.
- Oh iya, dari lama, aku ingin ke pantai berdua, lihat sunset. Ngobrol di pantai.
- Minimal sebulan sekali, aku mengirim love letter. Juga pas aku marah, aku nggak ngomong atau membela diri, cuma nulis surat aja, aku kasih ke kamu. Aple to aple, kamu ingin ambil jarak, dan kebutuhanku untuk didengar juga terpenuhi. Tapi kalau dipikir lagi, cuma butuh nulis di buku harian sih, nggak harus nulis surat terus aku kasih.
- Dari lama, aku ingin bisa merajut. Aku ingin membuat sesuatu untukmu. Bukan termasuk hobi sih, aku belum bisa, hanya saja rasanya menyenangkan memberikan sesuatu yang mana itu prosesnya melalui tanganku.
- Berkebun bareng. Pokoknya pegang tanah, kotor-kotor, ijo-ijo.
- Kalau bisa, sebulan sekali ada evaluasi, tapi dua bulan juga nggak papa, tergantung kondisi juga sih. Evaluasinya meliputi, kondisi rumah, anak dan aku. Kondisi rumah terdiri dari pengeluaran/keuangan rumah, gaya hidup, gaya makan, kebiasaan, apa tujuan terdekat yang ingin dicapai, apa tujuan jangka panjang, manajemen waktu terutama bagi aku yang di rumah, penyelesaian konflik secara tuntas jika ada. Aku itu meliputi, apa hal didalam diriku yang perlu aku tingkatkan dan tinggalkan, hubungan berpasangan terdiri dari semua yang dibahas di pernikahan termasuk itu itu. Anak; pendidikan karakter, kembang tumbuh, emosi, akademi, kebiasaan dan nilai hidup yang ingin kita tanamkan pada si anak, juga permasalahan yang saat itu terjadi dan perlu di bahas. Aku rasa, kalau jarak evaluasi terlalu lama, akan ada banyak pembahasan, tapi kalau sebulan sekali mungkin jauh lebih sedikit.
- Kalau mulai terasa bosan, hambar, tertekan, rumah terasa berisik dan bikin sesak. Perasaan-perasaan berat itu, susah untuk diungkapkan, karena tidak ingin pasangan merasa bersalah atau terbebani. Tapi, aku rasa, meskipun berat untuk dibahas, itu perlu untuk dibahas untuk ketenangan batin, untuk kehangatan dan rasa aman perasaan berpasangan. Jadi, mungkin bahasan berat ini, bukan nunggu waktu yang tepat, karena tidak akan ada waktu yang tepat kalau diri sendiri tidak menciptakan waktu yang tepat itu. Ciptakan waktu tepat itu dengan menginap di luar berdua mungkin (ini tingkatan yang paling berat dan tidak bisa diungkapkan dalam rumah). Jika dibiarkan, maka akan memperburuk keadaan, dipendam hanya akan menunda permasalahan baru, karena energi dan insting begitu kuat, kadang belum ngomong pun sudah terasa.
- Setiap tempat menarik yang kita kunjungi, aku ingin membawa buku harianku. Aku ingin journaling. Nempelin sesuatu, buat kenang-kenagan. Aku sebenernya juga suka mencetak foto, lalu ditempelin di buku itu, tapi belum kesampaian.
- Aku ingin buat buku berdua setelah beberapa tahun menikah. Penulisnya aku dan suami. Ketika sudah ada anak, juga tentunya buat buku. Aku ingin meninggalkan jejak di dunia setalah kami tiada. Perjalanan hidup kami (aku, suamiku dan anak-anakku), semoga pembaca mendapatkan refrensi atau tidak melakukan kesalahan yang sama atau mendapatkan sudut pandang baru dari perjalanan kami.
- Aku ingin, meskipun sudah menikah, suamiku memiliki waktunya sendiri, boleh ada waktu untuk dirinya sendiri. Aku tidak ingin justru karena menikah, suamiku terkekang, aku juga tidak ingin mengatur atau menjadi ibu seperti ibu-ibu kepadaa anaknya. Dia boleh, seharian ketika libur melakukan apa yang dia suka, mau jalan-jalan sendiri juga boleh, mau melakukan hal apapun sendiri juga boleh. Aku bilang ini, karena aku merasakan bagaimana orangtuaku kepadaku; percaya, tidak menuntut, tidak mengekang, tidak mengatur.
- Aku ingin, suamiku memiliki wishlist juga. Aku ingin, harapan dia terwujud, meski itu hal kecil. Aku ingin impian dia terwujud, karena impian suamiku adalah impianku juga. Aku ingin, bukan hanya aku yang mencentang satu per satu wishlistku.
- Oh iya, penting ini. Aku ingin napak tilas kehidupan suamiku. Mulai dari kota kelahiran suamiku, SD, SMP, SMA, kuliah, tempat kerja dan rumah kecil keluarga kita. Aku mendengarkan cerita dia selama napak tilas itu, mungkin dihati terkecilku (kalau randomku mulai), aku bakal merekam atau sambil membawa catatan kecil. Seolah suamiku menjadi narasumberku. Aku ingin hidup litas waktu melalui cerita yang suamiku bagikan.
- Aku pernah nulis catatan, tepatnya kapan aku lupa. "Jiayou! Demi buki fisik dipegang olehnya. Semangat! bisa kok" Buku pertamaku.
- Makan ice cream bareng, sambil lihatin jalan/pemandangan.
- to be continued...
Aku menemukan catatanku. Ada wishlist pada 26 Januari 2024 dengan judul "WL date in future":
1. Gramedia date
2. Weekend nonton bareng (nggak tiap weekend sih)
3. Library date
4. Weekend cooking together
5. Museum benteng vredeburg dimalam hari
6. Jalan kaki di rumput ijo-ijo yang banyak, ada pohon-pohonnya
7. Hunting foto bareng
8. Study date di rumah aja
9. Duduk bengong nggak ngapa-ngapain dan diem, backsound alam
10. Treveling pakai kendaraan peribadi/umum
11. Dating his hobby
Owh lucunya... Aku akan ketawa jika suatu saat nanti baca lagi. Hal ter recehnya belum ketulis pula. Baiklah...
Komentar
Posting Komentar