Untuk Aku Pribadi, Dari Otakku
Sebelumnya, terima kasih untuk mediaku menulis, laptopku. Meskipun dirimu benda mati, tapi sangat membantuku dengan cepat menulis apa yang ada diotakku ini. Dan juga, terima kasih telah menantiku untuk memegangmu dalam kondisi hidup, entah aku yang ketiduran sampai bangun-bangun masih hidup, atau hidup dari pagi sampai malam lagi aku yang menulis disela-sela pekerjaan rumahku. Emang, aku akui, dirimu 8 tahun bersamaku, pernah jatuh sampek ditindik wkwk direkatin lagi, pernah maraton 2 hari tanpa mati, PKL, skripsian, dibawa kesini sana, sampai sekarang, dirimu sangat setia bersamaku dan tangguh sekali. Jadi, terima kasih sudah menemaniku.
Laptopku membalas: "terima kasih juga sudah sabar sama aku, dengan aku yang kondisi saat itu lemot, kritis, dan berbagai kendala, tapi kamu masih mempertahankan aku dan menemaniku."
Iya, memang sih, aku akui, aku harus sabar menghadapimu yang lemot saat itu sampai dimarahin dosenkuš
Sudahlah.. kita sudahi percakapan aneh ini. Tapi, serius, terima kasih.
***
Ada sesuatu yang menarik perhatian otakku ini.
Sebelumnya, juga sempat terlintas, tapi aku belum berani untuk menuliskannya.
Ini juga belum berani sih, cuma karena kemarin kamu cerita, itu membuatku teringat lagi.
Biar aku nulisnya enak dan lebih terbuka, jadi aku akan menulis latar belakangnya terlebih dahulu.
Aku yang nulis ini, sebagai orang ke 3.
Aku yang nulis ini, bukan sebagai orang yang suka kamu.
Aku nulis ini, sebagai orang yang mengetahui kedua pov.
Aku nulis ini, untuk diriku sendiri. Tulisan ini bukan aku tujukan ke orang lain. Karena, aku merasa ini bukan hak ku untuk menulis ini. Ini saja, aku menulis ini rasanya ingin minta ijin kepada pemilik cerita terlebih dahulu, yaitu kamu. Tapi karena aku nulis ini untuk aku, jadi nggak papa ya?
Jikalaupun, tulisanku ini ada pesan yang bisa diambil atau bermakna, ini bukan hakku untuk menyampaikannya. Aku menuangkan ini untuk otakku sendiri.
Aku menulis ini, juga bukan untuk menilai atau mencari kesalahan pihak satu dengan pihak yang lain. Buat apa? Anggap saja seperti, aku sudah membaca buku, lalu kini aku menulis pelajaran hidup apa yang bisa aku ambil dari buku itu.
Aku yang mendapatkan keduanya cerita dari masing-masing pov, membuat aku menghormati dan menganggumi keduanya dari sisi yang berbeda. Bagaimana kamu dengan dia dan bagaimana dia dengan keluarganya dan kamu tentunya.
Aku tidak ingin menceritakan secara detail kisah atau konflik keduanya. Fokus aku bukan ke situ, tapi sesuatu yang aku sebagai pembaca, sebagai orang yang melihat bagaimana dinamika kehidupan keduanya.
Aku tidak tahu, ini apa dan aku nggak tahu ini bakal benar atau tidak. Hanya asumsi, dugaan yang belum terbukti, belum berdasar. Ini bisa jadi salah. Aku hanya ingin merumuskan ini, menjadi sesuatu yang terstruktur.
Kamu bilang, ada sesuatu yang tidak bisa ditoleransi.
Kamu bilang, kamu menunggu dia untuk berubah.
Kamu bilang, visi misi berbeda, dan yang paling kamu tekankan "merubah dia". Aku nggak tahu, visi misi itu terdiri dari apa saja, dan kamu bilang bahwa karakter itu termasuk visi misi (aku baru tahu itu).
Sesuatu ini, tentunya hal yang besar, hal yang berdampak dalam keseharian, hal yang bisa memicu konflik berulang.
Sesuatu yang tidak bisa ditoleransi? sesuatu yang susah untuk diubah? sesuatu yang tidak menemukan jalan tengah?
Hal teknis, itu sesuatu yang bisa ditoleransi.
Aku pikir, dengan karakter kamu, tidak bisa memasak ya bisa bisa beli. Malas nyuci, kan ada mesin cuci. Hal-hal yang ada solusi lain atau masih bisa dikerjakan orang lain, hal ini masih ada solusi. Ya, meskipun bagiku, itu hal basic sih (bagiku loh, karena basic tiap orang itu beda-beda takarannya).
Ini bukan sesuatu yang teknis tentunya.
Bekerja juga tidak. Aku rasa dia tidak mempermasalahkan itu dan kamu membolehkan itu. Aku rasa, dia juga nggak papa, kalau sudah ada anak berhenti bekerja.
Bukan eksternal.
Ini sesuatu yang internal.
Karena aku masih ingat, dia sempat bilang ke aku "dia merasa jatuh cinta sendirian." (eh, jatuh cinta atau mengusahakan ya?)
Berarti, ada ketidak seimbangan antara keduanya.
Satu berharap tapi harapan itu hanya sebuah harap yang tidak terealisasikan. Kalau bilang apa adanya takut menekan. Takut menuntut. Perasaan itu sudah sangat dalam, terlalu dalam bahkan dan sudah masuk ke pihak keluarga. Aku juga tahu, kamu gila sih (gilanya lebih ke kagum "badass"). Kamu tuh, sabarnya itu diam. Ibaratnya itu kayak, kamu menanam pohon sengon, kamu rawat diam-diam, kamu jaga meski pohon itu tidak tahu sedang kamu jaga, kamu menanti saat yang menurutmu tepat, diwaktu yang tepat. Baru setelah itu, kamu bilang ke pohon sengonmu.Aku mengangap itu hal yang gila sih, lebih gila sih. Gilanya itu bukan hilang akal, tapi siapa sih di umur segitu tapi udah berpikir 5 kali ke depan. Haduh, untuk menggambarkan secara tepat, gimana ya?
Di sini itu, ada sebuah kesabaran dalam penantian. Tanang, tidak berisik, tapi dalam dan jangka panjang. Gila versiku ini itu, setia, konsisten, stabil, sabar, jangka panjang, dan usaha yang maksimal.
Aku rasa, kamu dititik memutuskan untuk bermanuver, itu udah titik puncaknya setelah usaha dan kesabaran itu.
Menanti orang untuk berubah, berharap, itu hal yang membutuhkan energi dan pikiran. Dan sesuatu yang internal itu tidak bisa ditransfer, juga tidak bisa diubah dalam kurun waktu tertentu.
Bermanuver pun hal yang kayak seolah kamu sudah membangun rumah itu, bagaimana strukturnya, juga tenagamu, waktu, perhatian, pikiran, persaan juga. Tindakan bermanuver ini seolah seperti membangun ulang bangunan itu. Untuk membangun dari nol lagi, juga berarti kembali lagi dititik memberikan waktu, tenaga, perhatain dan semua hal dari awal. Kayak, merombak lagi gitu lo.
Aku anggap, itu keputusan gila dan pemberani.
Aku anggap pemberani, karena aku tahu risikonya.
Aku bukan sedang memujimu, aku hanya mengatakan kegilaanmu bermanuver itu. Hei... gila ya...
Mungkin, jika dilihat dari luar, orang akan mengatakan intinya katanya suka tapi kok nggak diusahakan. Aku pun sebelum kenal kamu, juga berpikir seperti kebanyakan orang. Tapi setelah kenal kamu, kayak, yah aku tahu itu. Tapi bener-bener tidak terduga. Sampai, ada yang bilang kalau kamu orangnya nggak bisa ditebak, pemilih dan nggak mau menerima dia apa adanya.
Untuk kamu, setelah aku tahu pov darimu tahun lalu dan ini, aku rasa, kamu sudah mengusahakan itu bukan? kamu sudah bersabar sebegitu lamanya, kamu sudah sering mengalah dan mencoba mengerti. Meski itu tidak terlihat, percayalah semua usaha dan kesabaranmu itu akan kembali kepada dirimu sendiri. Mungkin, suatu saat nanti, bukan pohon sengaon ternyata yang kamu butuhkan, mungkin pohon trembesi, mungkin pohon trembesi itu tinggal di tengah hutan hujan tropis dan Allah menjaga pohon itu, karena Allah Maha Memelihara. Jadi, ketika kamu menemukan pohon trembesimu itu, dan aku menerima 2 americano, aku turut bangga karena seolah aku menjadi saksi dari kedua pov itu. Perjalanan yang panjang, dan aku bisa mengatakan padamu "I'm proud of you. You've been through a lot and you deserve all of this."
Untuk dia,
Dia, memandang dirinya ketika bersamamu merasa kurang, serba salah. Sesuatu internal, yang aku maksud adalah katakter dia, kebiasaan, cara berpikir. Aku tidak mengatakan buruk atau dia tidak baik, hanya saja setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda. Untuk, agar dia mengerti apa yang kamu lakukan, pilihan, keputusan, itu membutuhkan pemikiran yang selaras, agar tidak terjadi salah paham. Atau agar kamu tidak perlu menjelaskan apa yang ada di otak kamu ini dan apa yang kamu rasakan terlalu panjang dan terkadang susah untuk dijelaskan, pun nggak bisa di copy paste kayak ngetik di word, nggak bisa ditransfer.
Dengan kisah hidup yang berbeda, pengalaman berbeda, sangat susah menemukan orang dengan cara berpikir yang selaras. Jadi, itulah kenapa, saat kamu nemukan pohon trembesimu itu, aku sebagai pembaca turut bangga. Sebagai pembaca merasa "sebuah kehormatan bagiku menyaksikan kisah kalian berdua dan mendapatkan pov keduanya."
*aneh ya, kok aku bisa ya mendapatkan pov keduanya. Bener-bener serasa kayak pembaca buku mereka.
Ini, aku melihat dari segala aspek dalam kehidupannya, tanpa membuka hal privasi. Dia itu, bagiku dia tumbuh dengan caranya sendiri. Dia sudah menahan semua, dia menyimpan semua dalam dirinya. Aku baru tahu itu, dan ketika aku tahu aku hanya bisa bilang "kayaknya, kalau aku diposisimu, belum tentu aku bisa sekuat kamu." Di situlah, tiba-tiba aku tidak ingin menutupi darinya cerita itu dan tidak ingin dia menjadi orang yang merasa dikhianati (dia tidak tahu apa-apa, padahal aku tahu semua itu dan dia mempercayakan itu di aku). Aku merasa menjadi jahat sekali jika aku cari aman. Aku tahu risiko, aku menceritakan itu ke dia, aku tahu. Tapi daripada aku memikirkan perasaanku, risikoku yang aku terima, aku juah lebih tidak tega lagi jika aku tidak jujur kepadanya. Aku mengatakan itu, hal yang berat, tapi lebih berat lagi jika aku tahu semua tentang dia dan dia mempercayaiku, namun aku seperti ini.
Itulah, kenapa aku cerita itu ke dia. Bukan untuk aku saja, untuk perasaan dia dan aku.
Aku juga berat, jujur ke kamu telah mengatakan itu, aku bingung bilangnya ke kamu gimana. Tapi aku harus jujur bilang ke kamu bukan? ya meski aku tahu kemungkinan risikonya, meski aku tahu mungkin itu akan melukaimu. Aku nggak mau cari aman dan seolah tidak terjadi apa-apa. Lebih baik ribut daripada menyembunyikan atau tidak jujur.
Dia tumbuh, tapi tumbuh dan berubah diversinya dia, dikebutuhan dia, bukan kebutuhanmu. Jadi, kemungkinan kebutuhanmu belum tentu kebutuhannya, kebutuhannya belum tentu juga kebutuhanmu. Atau sama-sama memiliki harapan tapi tidak diungkapkan. Atau sudah diungkapkan tapi jadilah terkesan menuntut dan mengekang, terasa merasa kurang terus dan serba salah.
Aku merasakan, keduanya tumbuh di tingkatan yang berbeda. Atau tumbuh di arah yang berbeda dengan masing-masing membawa harapan yang berbeda kebutuhan juga.
Masing-masing mencintai dengan cara yang berbeda, namun karena mungkin terjadi miss, lebih tepatnya ketidak kesinambungan antara keduanya.
Jadi yang satu memberi waktu untuk berubah, yang satunya merasa itu sebuah jarak.
Yang satu seolah seperti menuntut hanya saja sebenarnya bisa jadi ingin tumbuh di arah yang sama, sedangkan yang satunya menganggap itu serangan jadi merasa serba kurang (dia menganggap kamu memandang dia selalu dari sisi kurangnya) dan harapan dia bisa diterima apa adanya.
Aku mengerti, kamu berharap dia berubah untuk kebaikannya, untuk dia juga di masa depan. Untuk kamu yang tipikal berpikir panjang, melihat dari berbagai sisi, stategis dan perfeksionis (perfeksionis bukan hal yang buruk, justru itu dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan pertimbangan), agak susah bagi dia untuk memahami itu (mungkin sih).
Cara berpikir kamu dan dia berbeda. Bahasa cinta kalian juga berbeda. Harapan kalian pun juga berbeda. Atau yang satu ingin hubungan menjadi tempat tumbuh bersama, dan yang satunya lagi menginginkan diterima apa adanya.
Bisa jadi ya, bisa jadi.
Nggak ada yang salah atau benar. Cuma, cara pandangnya saja yang berbeda. Juga, karakter dan kebiasaan yang tidak bisa ditoleransi, dan dua hal ini itu sesuatu yang melekat.
Apakah semua itu hal yang sia-sia? tentu tidak. Keduanya akan mendapatkan pelajaran hidup dari sisi yang berbeda juga. Keduanya, akan mendapatkan makna baru dengan kedua makna yang berbeda. Aku sebagai pembaca, menghargai kisah keduanya.
Di akhir tulisanku. Aku sangat mengagumi kesabaranmu, usaha maksimalmu, kesetiaanmu dan konsistenmu. Itu, kayak Javio versi bener. Itu kayak Tigor. Tapi cenderung kayak Tigor sih. Kamu sebagai tokoh versi nyata, aku belum menemukan selain kamu.
Aku, nggak tahu, kayak rasanya ingin aku rekam semuanya, termasuk ceritamu, ingin aku tulis semua di memoriku. Tapi, habis ngobrol aja "tadi ngomong apa aja ya?"
Ini semua hanyalah tulisan, dan aku sebagai pembaca buku versi keduanya, ini yang aku dapatkan. Tidak bisa menulis secara utuh, karena aku hanya menulis sisi luarnya saja. Bukan bagianku untuk kepo, atau mengulik lebih dalam (ya buat apa kan?), atau menulis hal yang tidak perlu.
Jadi, tulisan ini untuk otakku, untuk diriku. Bukan untuk kamu, dia ataupun pembaca.
Meskipun bisa jadi tulisan ini netral, tapi tetap saja bukan hak ku, bukan ranahku.
oh, kamu boleh membaca sih, tapi cukup kamu orang yang aku percaya sudah mengenal kebiasaanku, tulisanku dan bagaimana aku.
Xie-xie.
Komentar
Posting Komentar