April dan Halaman Pertama Hidden Home
Aku mulai tahu, kalimat awal apa yang akan aku gunakan. Aku tahu bab pertama, halaman pertama dari buku itu.
Awalnya, bagian pertama fokus ke pertumbuhanku, tapi ternyata malah aku bingung.
Lalu, aku teringat, ketika aku menulis dengan bebas, menulis mengalir tiada henti seperti mata air, menulis tanpa jeda, sangat-sangat menikmati proses menulis, aku tahu triggernya, aku tahu pemicunya.
Aku pastikan, buku fisik itu dipegang olehnya, dia udah mengijinkan ini dan aku akan berusaha. Salah satu wishlistku untuk dia dan salah satu impianku.
Akhirnya aku tahu halaman pertamanya apa.
Tentu saja, Hidden Home satu dan dua, juga bloger ini (aku pilih) masuk di naskah itu. Aku masih ingat, dulu aku pernah nulis kalau jika Hidden Home dibukukan, pembaca pertamaku adalah dia, sebelum dan setelah dicetak. Oh iya, sebelum dicetak aku kasih ke dia untuk apakah bagian mana yang boleh dan tidak boleh.
Bagaimana alur selanjutnya, Allah pemilik seluruh cerita, aku hanya mengusahakan sebisaku dan yang bisa aku kontrol. Diluar itu adalah kuasa-Nya. Bagaimana sikap, perasaan, tindakan dia itu sesuatu yang tidak bisa dikontrol. Aku percaya kepada dia dan percaya kepada-Nya. Aku serahkan apa yang belum terjadi kepada-Nya. Hanya kepada-Nya aku berserah, buka berarti pasrah. Ya Allah, aku percaya kepada alur hebat dai-Mu, aku sungguh tidak tahu Hidden Home ini bagaimana, jika secara cepat aku menyelesaikan 250-300 halaman, tapi aku belum tahu akhir ceritanya seperti apa, aku biarkan apa adanya, ceritanya belum usai. Ijinkan aku, untuk menyalurkan cerita ini melalui buku, buku yang Engkau ridhoi. Aamiin....
Ide ini muncul 31 Maret 2026. Mari kita mulai Fina... Kamu akan kembali di bloger ini, suatu saat nanti, setelah penulisan panjang itu. Lihat kembali tulisan 2 bulan ini... Semangat Fina... Jiayou! 加油!
Aku tahu, aku tidak boleh berekspektasi, aku tidak boleh memaksakan kehendak, tapi berharap dan "ingin" boleh kan?
Tentu boleh...
If i could choose and wish for anything,
I'd want the Hidden Home story to continue. Hidden Home memiliki beberapa seris, ceritanya tetap berlanjut. And i'd want the main character to stay same.
I want a Caramel Machiatto.
Dulu, aku mengalah dan memikirkan perasaan orang lain. This time, dalam cerita ini, i just want to be selfish for once.
I don't want to see him marry another woman (aku tidak ingin terulang 2 kali).
Kali ini, tidak seperti Hidden Home pertama. This time, i've chosen: cerita panjang, banyaknya pola, tulisan refketif, pertimbangan ke depan, kerja sama, bukan hanya sekedar perasaan seperti di Hidden Home pertama.
Sekali lagi, harapan dan keinginan ini, jika saja aku boleh menjadi egois. Jika aku, tidak memikirkan perasaan dan pilihan hidup dia. Aku menghargai dan menghormatinya, untuk itu alih-alih perasaanku, keinginanku, aku lebih memilih menghargai dia dan tetap menghormatinya.
To be honest, the desire is still there, the hope is still there. It's still same. I'm still same too. When he needs me, i'm still right here.
Sama seperti menyelesaikan skripsi, semangat ku agar Hidden Home sampai ke dia di hari yang sama aku menyelesaiakn skripsi.
Kali ini, buku nanti ini ibarat skripsi. Agar buku fisik itu segera dipegang olehnya. Dan juga, buku parenting melambaiku.
Satu lagi, aku rasa, entahlah nggak tahu kenapa. Aku masih ingat, dia berkali-kali cerita tentang perempuan yang suka sama dia di sana, bukan cuma satu dua. Tapi dia memilih untuk tidak berurusan atau berkomunikasi ke arah perasaan, dia tidak ingin memberi harapan, tidak ingin menjadikan mereka pelampiasan, tidak ingin memainkan perasaan perempuan. Selalu ada celah dan akan selalu ada celah, tapi dia tidak melakukan itu.
Jujur saja, meskipun aku sudah diam di rumah, nggak ingin drama perasaan. Jadi buku usang. Ada sedikit celah melalui anak temen ibuk, sedikit, tapi aku memilih tidak.
Kenapa? Nggak tahu, ada perasaan tak kasat mata, misal aku seperti dulu kejadian egi dan agung, kisahku itu, ya meskipun dari awal nggak baik, karena aku bermain 2 orang secara tidak sengaja (suka siapa, nyaman sama siapa. Ya meskipun keduanya bukan siapa-siapa, tanpa hubungan), hanya saja setelah itu berbagai perasaan buruk datang, perasaan tidak nyaman, rasa bersalah. Kayaknya 3 bulan deh, pas zarkasi pondok, habis itu ngerasa bersalah. Sadar. Tapi masih bodoh wkwk... Tapi dari situ, aku tahu, itu tidak baik dan "oh ternyaa perasaan juga nggak bisa dipaksakan ya" . Untukku, tindakan dan dampaknya.
Gini maksudku, misal aku mengambil sedikit saja celah itu, mengiyakan anak temen ibuku misal, cuma misal (what if) (dari lama, ibuk aku wanti-wanti bahwa aku ingin memilih sendiri, aku nggak mau dijodohin dll. Karena lebih menarik alur dari Allah yang tidak terduga, lebih menarik untuk diceritakan). Ya, meskipun dia nggak tahu, tapi Allah tahu. Perasaan tak kasat mataku itu, misal awalnya cerita bukuku tokoh utama nya dia, muncul tokoh baru, alurnya akan ada-ada saja, seperti masalah yang harusnya nggak ada di cerita itu jadi muncul. Kayak aku yang memunculkan masalah itu sendiri, seperti kisahku dulu di egi dan agung.
Berarti, pasangan-pasangan udah nikah yang selingkuh itu, konsepnya berarti hampir sama. Ada celah, mereka ambil karena emosi sesaat atau bosan, karena hanya fokus satu musim, lupa bahwa musim akan berlalu. Mereka, membuat permasalahan yang harusnya nggak ada. Itu pilihan... Nafsu itu ada, tapi logika, komitmen dan hati menjadi kontrolnya.
Bukankah keburukan itu datangnya dari manusia.
Bisikan setan, iya ada yang bilang kalau habis nikah setannya super power ingin menghancurkan pernikahan, kasta tertinggi persetanan. Maka, banyak cobaannya, banyak bisikan buruk, asumsi negatif, pikiran negatif, kekhawatiran dari perasaan yang tidak berdasar, oh jadi itu kekuatan supernya setan kasta tinggi. Wih.... Makanya, pahalanya besar.
Ah.... Benteng pertahanan adalah agama, belajar dan terus berdo'a dan meminta perlindungan kepada Allah. Oh... Itu...
Berarti kasta persetanan di sekelilingku masih golongan kasta rendah. (Setan di sampingku kayaknya tersinggung, tiba-tiba merinding. Dia baca.)
***
Aku balik lagi...
Hah... Serius kayak buku. Kebetulan-kebetulan kecil. Nggak lama habis nulis ini, padahal bahasnya random campur sari. Dengerin podcast milih random Raditya Dika: Buat yang Gampang Kecewa. Bahas selingkuh😭 Kebetulan kecil, yang bikin wih kok bisa. Aku tadi nulis random, milih podcastnya juga random. Ya Allah melting.
***
Apa ini....
Balik ke 3 kalinya....Menit ke 14:50.... Hah? Okay². Aku merinding.... Apa ini... Ya Allah... Wii... Kok bisa sekebetulan itu... Hah? Kok bisa?
***
Balik ke 4 kalinya di bloger ini.
Kok aku makin merinding. Merindingnya kayak aku nemu nama dia di Laut Bercerita. Podcast Bang Radit yang sama, menit ke 39. Padahal judulnya nggak mencakup isinya apa aja dan beneran aku random. Kebetulan aneh... Menit yang ini, ceritanya persis plek ketiplek, copy paste kisah dia. Kok bisa ya?
Aneh.... Dari 2024 sampai sekarang, menemukan kebetulan-kebetulan itu. Maksudku, kok cuma ke bang firhan. Kenapa kok nggak antara meme sama fina gitu? Kenapa seringkali cuma bang firhan kebetulan-kebetulan aneh itu. Sekali aja, antara fina sama meme, atau fina sama mbep. Telebih lagi, yang masih paling nyebelin, Laut Bercerita, habis kejadian 14 Agustus, kenapa kalimatnya yang keluar gitu juga nama Hans cuma di situ, nggak jadi tokoh di buku atau figuran. Nggak mugkin kan buku setebel itu, aku beli ngecek dulu namanya satu-satu, toh juga kenapa kebetulan Agustus sih, after kejadian. Padahal aku baca Laut Bercerita di bulan itu gara-gara pemilu atau demo waktu itu.
Pas dapet kalimat itu kayak... Hah, aku yang mau ngelupain malah inget, kalimat itu pula😭 kayak buku lebih tau perasaanku.
Jadi nggak sabar, kebetulan-kebetulan itu lagi.... Tanpa dibuat-buat, tanpa dipaksa, kayak selalu ada keanehan itu, kebetulan itu.
Komentar
Posting Komentar